Kado Senapan dari Lukashenko untuk Kim Jong Un, Penguatan Aliansi Belarusia-Korut
Dalam sebuah pertemuan yang penuh simbolis, Presiden Belarusia Alexander Lukashenko menghadiahkan sebuah senapan otomatis kepada pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. Hadiah ini diberikan saat keduanya menandatangani perjanjian persahabatan di Pyongyang, menurut laporan media pemerintah Belarusia yang dirilis pada Jumat, 27 Maret 2026.
Simbol Persahabatan dan Kesiapsiagaan
Berdasarkan video yang dirilis oleh media pemerintah Belarusia, Lukashenko bercanda kepada Kim dengan mengatakan, "ini hanya untuk berjaga-jaga kalau musuh datang". Senapan tersebut dipegang oleh Kim Jong Un dalam acara tersebut, menandai momen penting dalam hubungan bilateral kedua negara.
Sebagai balasan, Kim Jong Un memberikan Lukashenko sebuah pedang dan vas yang bergambar potret pemimpin Belarusia tersebut. Pertukaran hadiah ini terjadi dalam kunjungan pertama Lukashenko ke Korea Utara, di mana ia disambut hangat oleh Kim di Pyongyang.
Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama Multibidang
Lukashenko menggambarkan perjanjian persahabatan itu sebagai hal yang mendasar, sementara Kim mengatakan perjanjian tersebut akan "lebih menjamin kestabilan hubungan bilateral", seperti dilaporkan oleh kantor berita Belarusia Belta. Kedua pemimpin sepakat untuk bekerja sama lebih erat dalam berbagai bidang, termasuk:
- Pertanian
- Informasi dan komunikasi
- Kesehatan masyarakat
Menurut KCNA, media resmi Korea Utara, kerja sama ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan melindungi kedaulatan kedua negara.
Dukungan untuk Perang Rusia di Ukraina dan Tekanan Barat
Kedua pemimpin, yang sama-sama merupakan pendukung utama perang Rusia di Ukraina, menegaskan komitmen mereka untuk menolak tekanan dari negara-negara Barat. Lukashenko dalam pidatonya menyatakan, "Ketika norma-norma hukum internasional secara terang-terangan diabaikan dan dilanggar oleh kekuatan yang berkuasa, negara-negara perlu bekerja sama dalam melindungi kedaulatan mereka."
Korea Utara dan Belarus saat ini menghadapi sanksi dari negara-negara Barat karena dugaan pelanggaran hak asasi manusia dan dukungan mereka terhadap perang Rusia di Ukraina. Pyongyang juga menghadapi sanksi terpisah terkait program senjata nuklirnya.
Laporan sebelumnya menyebutkan bahwa Pyongyang turut mengirimkan tentara untuk mendukung kampanye Rusia di Ukraina. Pejabat Barat mengungkapkan kepada BBC pada tahun lalu bahwa diperkirakan 1.000 tentara Korea Utara tewas dalam beberapa bulan pertama konflik tersebut.
Pesan Solidaritas dan Masa Depan Hubungan
Dalam pesan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin pekan ini, Kim Jong Un menegaskan bahwa "Pyongyang akan selalu bersama Moskow", menurut KCNA. Pernyataan ini memperkuat aliansi antara Korea Utara, Belarus, dan Rusia dalam menghadapi tekanan internasional.
Lukashenko juga memberikan pujian kepada Kim, mengatakan, "Saya bisa katakan sebagai seorang teman, sebagai seseorang yang sudah banyak melihat hal di dunia ini: masa depan yang cerah menanti negara Anda, dengan rakyat yang pekerja keras dan disiplin."
Kunjungan Lukashenko ini terjadi dalam konteks di mana Ukraina sebelumnya menuduh Rusia menggunakan wilayah Belarusia sebagai pangkalan militer untuk melancarkan serangan. Hadiah senapan dan perjanjian persahabatan ini menjadi simbol nyata dari komitmen kedua negara untuk memperkuat kerja sama strategis di tengah tantangan global.



