Jusuf Kalla Soroti Posisi Lemah Indonesia Saat Prabowo Ingin Mediasi AS-Iran
JK Kritik Posisi RI Saat Prabowo Ingin Mediasi AS-Iran

Jusuf Kalla Soroti Posisi Lemah Indonesia Saat Prabowo Ingin Mediasi AS-Iran

Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia, Jusuf Kalla, memberikan respons kritis terhadap sikap Presiden Prabowo Subianto yang menyatakan kesediaan menjadi mediator dalam konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Pernyataan Prabowo disampaikan melalui Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, yang mengungkapkan kesiapan presiden untuk terbang ke Teheran jika kedua negara setuju menjadikan Indonesia sebagai jembatan komunikasi.

Niat Baik Namun Situasi Kompleks

Dalam pernyataan pers yang dikeluarkan dari kediamannya di Jakarta pada Minggu, 1 Maret 2026, Jusuf Kalla mengakui bahwa rencana mediasi tersebut memiliki niat yang baik. "Ya niat, rencana itu baik saja. Tapi ini situasi yang jauh lebih besar masalahnya. Palestina dengan Israel saja tidak bisa, sulit didamaikan," ujar JK dengan nada heran.

Namun, mantan wakil presiden ini menyoroti kompleksitas situasi global yang menurutnya tidak sederhana. JK menegaskan bahwa dunia saat ini berada di bawah kendali Amerika Serikat, termasuk Indonesia yang telah membuat berbagai kesepakatan dengan Negeri Paman Sam.

Ketidaksetaraan Posisi Indonesia

Jusuf Kalla secara khusus menyebutkan kesepakatan tarif resiprokal antara Indonesia dan Amerika Serikat yang dinilainya justru merugikan posisi Indonesia. "Dunia ini sangat ditentukan oleh sifat Amerika dan sayangnya Indonesia telah mengadakan perjanjian tidak seimbang yang sangat merugikan Indonesia. Itu saja kita tidak setara Amerika," tegas JK.

Lebih lanjut, JK mempertanyakan kapasitas Indonesia dalam mendamaikan pihak-pihak yang tidak setara. "Bagaimana mendamaikan orang yang tidak setara? dalam keadaan ini dalam hal perundingan seperti itu," sambungnya, menandaskan keraguan terhadap efektivitas mediasi dalam kondisi ketimpangan kekuatan tersebut.

Latar Belakang Konflik AS-Iran

Pernyataan Jusuf Kalla muncul menyusul eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang mencapai puncaknya pada Sabtu, 28 Februari 2026. Serangan gabungan AS dan Israel ke Iran menyebabkan kerusakan infrastruktur dan korban jiwa sipil, termasuk pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei yang dikonfirmasi syahid.

Kementerian Luar Negeri Indonesia telah menyatakan penyesalan atas gagalnya perundingan nuklir antara AS dan Iran. Dalam sikap resminya, pemerintah menyebutkan bahwa Presiden Prabowo Subianto siap memfasilitasi dialog untuk menciptakan kembali kondisi keamanan yang kondusif, dengan syarat disetujui kedua belah pihak yang bertikai.

Iran telah membalas serangan tersebut dengan meluncurkan rudal ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah. Korps Garda Revolusi Islam Iran dan Angkatan Darat Iran bersumpah akan membalas kematian Khamenei, sementara pemerintah Iran mengumumkan masa berkabung selama 40 hari dan libur kerja seminggu.

Dampak Ekonomi bagi Indonesia

Dalam konteks yang lebih luas, Jusuf Kalla sebelumnya telah mengingatkan bahwa serangan AS-Israel terhadap Iran akan membawa dampak ekonomi serius bagi Indonesia. Pernyataan ini menambah dimensi pertimbangan strategis yang harus dihadapi Indonesia dalam merespons konflik internasional tersebut.

Dengan latar belakang ini, rencana mediasi Prabowo Subianto tidak hanya menjadi isu diplomasi internasional, tetapi juga menyentuh persoalan posisi tawar Indonesia dalam percaturan global serta implikasi ekonomi yang mungkin timbul dari keterlibatan dalam konflik berkepanjangan di Timur Tengah.