Jusuf Kalla Serukan Indonesia Tak Diam Atas Serangan AS-Israel ke Iran
Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia, Jusuf Kalla (JK), secara tegas menyesalkan serangan gabungan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran. Serangan militer tersebut dilaporkan telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Dalam pernyataan persnya yang disampaikan dari kediamannya di Jakarta pada Minggu, 1 Maret 2026, JK menyoroti ketidakpatutan aksi ini yang terjadi di tengah proses perundingan antara AS-Iran dan pada momentum bulan suci Ramadan.
Kritik Terhadap Pola Agresi Amerika Serikat
Jusuf Kalla tidak hanya menyampaikan keprihatinan mendalam atas konflik yang melibatkan dunia Islam, tetapi juga mengkritik keras pola perilaku agresif yang dianggapnya konsisten dilakukan oleh Amerika Serikat. "Kita mengetahui bagaimana Amerika–Israel menyerang Iran. Padahal Iran dan Amerika sedang berunding. Dari segi etik, kalau sedang berunding jangan serang, kan?", ujar JK dengan nada sesal.
Lebih lanjut, mantan Wakil Presiden ini menggambarkan tindakan AS tersebut sebagai cerminan dari kecenderungan untuk menyerang segala hal yang tidak sejalan dengan pandangan mereka. Dia memberikan contoh konkret berupa intervensi di Venezuela dengan penculikan Presiden Nicolas Maduro, serta konflik-konflik sebelumnya di Afghanistan, Irak, dan Suriah. "Ini memang suatu hal yang menjadi bagian keprihatinan kita kepada masalah Amerika dengan sifat dan kekejaman yang dilakukan," kutuknya.
Desakan Agar Indonesia Tidak Tinggal Diam
Menyikapi tewasnya Ali Khamenei yang menyebabkan kondisi politik internal Iran berada di titik sensitif, Jusuf Kalla menyampaikan duka cita yang mendalam. Dia secara khusus menyerukan kepada pemerintah Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, untuk mengambil sikap dan tidak berdiam diri. Meski mengakui bahwa upaya mendamaikan pihak-pihak yang berkonflik saat ini merupakan tugas yang sangat sulit, JK menekankan pentingnya peran moral Indonesia.
"Indonesia tentu sebagai negara mayoritas Islam, apalagi di bulan Ramadan, berupaya setidak-tidaknya menyerukan dan mendoakan agar situasi ini segera berhenti. Untuk mendamaikan itu sulit sekali dan tidak mungkin kita lakukan seperti apa yang kita harapkan," tegasnya, menandaskan bahwa setidaknya seruan perdamaian harus terus digaungkan.
Kronologi Serangan dan Dampaknya
Serangan gabungan AS dan Israel ke Iran terjadi pada Sabtu pagi, 28 Februari 2026 waktu setempat, yang menargetkan sejumlah lokasi termasuk ibu kota Teheran. Serangan ini tidak hanya menyebabkan kerusakan infrastruktur yang parah, tetapi juga memakan korban jiwa dari kalangan sipil. Iran merespons dengan melancarkan serangan rudal balasan ke wilayah Israel serta fasilitas militer AS yang berada di kawasan Timur Tengah.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dikonfirmasi syahid akibat serangan rudal langsung terhadap tempat kerjanya. Menyusul wafatnya Khamenei, pemerintah Iran mengumumkan masa berkabung nasional selama 40 hari dan memberlakukan libur kerja selama satu pekan. Dalam pernyataan tertulis, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan Angkatan Darat Iran bersumpah akan membalas dendam atas kematian pemimpin mereka tersebut, mengindikasikan eskalasi konflik yang lebih lanjut.
Dengan latar belakang ini, seruan Jusuf Kalla agar Indonesia aktif dalam menyerukan perdamaian menjadi semakin relevan, menekankan tanggung jawab moral negara di tengah konflik internasional yang berpotensi meluas dan mengancam stabilitas global, khususnya di dunia Islam.
