Israel Bertekad Usir Hizbullah dari Lebanon Selatan, Operasi Militer Diperluas
Dalam beberapa hari terakhir, militer Israel telah melancarkan serangan udara intensif terhadap posisi-posisi Hizbullah di Beirut dan wilayah selatan Lebanon. Kini, pasukan infanteri juga dilaporkan mulai memasuki wilayah Lebanon, menandai eskalasi signifikan dalam konflik regional ini. Operasi ini diklaim sebagai respons langsung atas serangan milisi Syiah tersebut, yang baru-baru ini menyerang sasaran di utara Israel dengan roket dan drone.
Eliminasi Ancaman Militer sebagai Prioritas Utama
Israel memandang Hizbullah sebagai salah satu ancaman militer terbesar bagi keamanan nasionalnya. Milisi yang dipimpin oleh Naim Qassem ini dikenal memiliki depot amunisi roket yang besar dan struktur militer yang tertanam kuat di selatan Lebanon. Menurut intelijen Israel, roket-roket Hizbullah mampu menjangkau hampir seluruh wilayah negara itu.
Kepala Staf Umum militer Israel, Eyal Zamir, menegaskan bahwa Israel tidak akan mengakhiri perang selama ancaman dari Hizbullah belum dihilangkan. Tujuannya adalah melemahkan atau bahkan menghancurkan total kemampuan militer kelompok yang bersekutu dengan Iran tersebut.
Ahli Israel, Peter Lintl dari Yayasan Ilmu Pengetahuan dan Politik Jerman (SWP) di Berlin, mengamati perubahan logika militer Israel. "Ini merupakan orientasi strategis baru yang berkembang setelah 7 Oktober," katanya, merujuk pada serangan Hamas yang memicu Perang Gaza. "Tujuannya kini bukan sekadar menahan lawan, tetapi menghadapinya sedemikian rupa sehingga mereka tidak lagi menjadi ancaman."
Namun, Lintl juga menunjukkan batasan strategi ini: "Hizbullah sangat melekat di masyarakat dan menjadi bagian dari struktur sosial Lebanon. Penghapusan total organisasi ini nyaris tidak realistis." Kemungkinan besar, Israel akan mencoba menciptakan zona penyangga di selatan dan menduduki posisi-posisi Hizbullah di sana.
Kembalinya Warga Sipil dan Stabilitas Perbatasan
Tujuan lain dari operasi ini adalah menstabilkan situasi keamanan di perbatasan utara Israel secara permanen. Sejak Perang Gaza pada Oktober 2023 yang melibatkan Hizbullah, puluhan ribu warga telah mengungsi dari wilayah perbatasan.
Pemerintah Israel menetapkan sebagai salah satu tujuan operasi militer "kembalinya warga utara ke rumah mereka dengan aman." Lintl menyoroti bahwa perspektif politik dalam operasi ini sangat minim, dengan fokus utama pada memberikan kerusakan maksimal pada lawan. "Anda tidak bisa membasmi ideologi politik dengan bom," tegasnya, menekankan bahwa tekanan militer mungkin memberi waktu, tetapi tidak menyelesaikan masalah politik mendasar.
Melemahkan Jaringan Proksi Iran di Kawasan
Israel menilai Hizbullah sebagai bagian dari aliansi regional yang lebih besar di bawah pimpinan Iran. Poros perlawanan ini mencakup kelompok pro-Iran di Irak, Suriah, dan Houthi di Yaman. Eyal Zamir menyatakan bahwa Israel ingin menghilangkan ancaman dari "poros Syiah" yang dipimpin Iran, yang sering melancarkan konflik secara tidak langsung melalui kelompok-kelompok proksi.
Lintl menilai tindakan Israel dapat dipahami dari sudut pandang perlindungan warga, tetapi juga menekankan dampaknya pada Lebanon. "Upaya menciptakan zona penyangga berarti puluhan ribu warga selatan Lebanon harus dievakuasi," katanya, menyoroti konsekuensi kemanusiaan dari operasi ini.
Mencegah Perang Multi-Front yang Lebih Luas
Strategi Israel juga terkait dengan tujuan mencegah terjadinya perang multi-front yang besar. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah menyatakan bahwa Israel tengah berada dalam perang semacam itu dengan Iran dan sekutunya. Israel menghadapi ancaman dari Hizbullah di Lebanon, Hamas di Gaza, dan milisi lain yang berafiliasi dengan Iran di kawasan.
Analisis keamanan memperkirakan bahwa kelompok-kelompok ini dapat menyerang Israel secara bersamaan dalam situasi krisis, dengan Hizbullah saja diperkirakan memiliki hingga 150.000 roket. Oleh karena itu, Israel berupaya melemahkan satu per satu aktor dalam jaringan Iran sebelum eskalasi memuncak, untuk menghindari beban pertahanan yang terlalu berat.
Operasi militer ini mencerminkan tekad Israel untuk mengamankan perbatasannya dan membatasi pengaruh Iran, meskipun dengan risiko konflik yang lebih luas dan dampak kemanusiaan yang signifikan.
