Israel Siapkan Proposal Pengerahan Militer Jangka Panjang di Lebanon Selatan
Israel dilaporkan sedang bersiap untuk mengajukan rencana kepada pemerintah Lebanon yang mengatur pengerahan pasukan militer Israel untuk jangka panjang di wilayah selatan negara itu. Pengerahan jangka panjang ini tentunya harus mendapatkan persetujuan resmi dari pemerintah Lebanon terlebih dahulu.
Proposal Akan Dibahas dalam Pertemuan di Washington DC
Proposal tersebut, seperti dilaporkan oleh media lokal Israel, Channel 14, dan dilansir Anadolu Agency, diperkirakan akan dibahas dalam pembicaraan langsung antara Tel Aviv dan Beirut. Pertemuan ini dijadwalkan pada Selasa (14/4/2026) waktu setempat di Washington DC, Amerika Serikat, dengan mediasi dari pihak AS.
Laporan Channel 14 menyebutkan bahwa proposal Israel itu dipersiapkan oleh Menteri Urusan Strategis Ron Dermer. Dermer merupakan salah satu penasihat terdekat Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan mantan Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat.
Pembagian Tiga Zona dengan Syarat Khusus
Menurut laporan tersebut, rencana Tel Aviv akan membagi wilayah Lebanon bagian selatan menjadi tiga zona yang berbeda. Setiap penarikan pasukan Israel dari zona-zona tersebut akan didasarkan pada syarat-syarat tertentu, termasuk pembubaran kelompok Hizbullah secara menyeluruh.
- Zona Pertama: Membentang dari perbatasan utara Israel hingga area yang disebut "garis kuning", sekitar 7-8 kilometer di dalam wilayah Lebanon. Di zona ini, pasukan Israel akan mempertahankan kehadiran militer jangka panjang dan intensif. Pasukan Israel akan tetap berada di area tersebut hingga Hizbullah sepenuhnya dibubarkan dan semua senjatanya disingkirkan.
- Zona Kedua: Membentang dari "garis kuning" hingga Sungai Litani. Di zona ini, pasukan Israel akan terus beroperasi melawan Hizbullah sebelum secara bertahap menyerahkan kendali kepada pasukan militer Lebanon.
- Zona Ketiga: Area sebelah utara Sungai Litani, di mana tanggung jawab untuk perlucutan senjata Hizbullah sepenuhnya berada di tangan militer Lebanon. Laporan Channel 14 juga menyebutkan bahwa para pejabat Israel secara pribadi mengakui jika perlucutan senjata Hizbullah sepenuhnya di area ini tidak mungkin terjadi dalam waktu dekat.
Harapan Israel dan Prospek Perdamaian
Para pejabat Israel meyakini bahwa Beirut dapat menerima kehadiran pasukan Israel yang berkelanjutan di "zona keamanan" bagian selatan sebagai timbal baliknya. Ditambahkan dalam laporan Channel 14, proposal Tel Aviv itu juga mencakup prospek perjanjian perdamaian akhir antara Israel dan Lebanon. Namun, perjanjian itu hanya akan berlaku setelah Hizbullah sepenuhnya dilucuti senjatanya.
Pertemuan antara para pejabat Israel dan Lebanon di Washington DC pada Selasa (14/4) diharapkan dapat membahas proposal ini secara mendalam. Diskusi ini menjadi langkah penting dalam upaya menstabilkan kawasan perbatasan yang sering memanas akibat konflik dengan Hizbullah.



