Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan keyakinannya bahwa pembicaraan kesepakatan dengan Amerika Serikat akan berjalan baik dan mampu mengembalikan aset beku senilai $6 miliar (sekitar Rp106 triliun) yang saat ini berada di Qatar. Pernyataan ini disampaikan pada Minggu, 21 Juni 2026, seperti dilansir Al-Jazeera.
Aset Beku sebagai Bagian dari Kesepakatan Awal
Pezeshkian menjelaskan bahwa dana tersebut akan dikembalikan sebagai bagian dari kesepakatan awal dengan AS untuk mengakhiri perang. "Semua ketentuan nota kesepahaman menguntungkan kita, dan keberhasilan pembicaraan dan negosiasi ini akan terbukti," ujarnya seperti dikutip kantor berita Tasnim.
Ia menambahkan, "Dana $6 miliar kita di Qatar akan dikembalikan." Pezeshkian juga menyebut bahwa Presiden AS Donald Trump, yang sebelumnya memberlakukan banyak larangan terhadap Iran, kini menyatakan semua itu sebagai hak rakyat dan bangsa Iran.
Sindiran untuk Netanyahu
Dalam kesempatan tersebut, Pezeshkian menyindir Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Ia mengatakan bahwa Netanyahu akan menjadi "orang pertama yang tidak senang dengan negosiasi" yang berlangsung di Swiss. Sindiran ini menegaskan ketegangan yang masih berlangsung antara Iran dan Israel terkait program nuklir Iran.
Poin Utama Negosiasi: Bom Atom
Pezeshkian mengungkapkan bahwa satu-satunya poin yang menjadi perhatian AS adalah agar Iran tidak memiliki bom atom. "Ini adalah sesuatu yang juga berulang kali dikatakan oleh pemimpin yang gugur itu, 'kita tidak menginginkan bom atom,'" katanya. Ia menegaskan bahwa AS meminta Iran untuk menuliskan komitmen tersebut dan menandatanganinya, yang telah dilakukan Iran.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa isu nuklir tetap menjadi inti dari negosiasi antara kedua negara. Kesepakatan awal ini diharapkan dapat membuka jalan bagi pencairan aset beku dan normalisasi hubungan lebih lanjut.



