Iran menuduh Amerika Serikat (AS) mengajukan tuntutan berlebihan di tengah proses diplomasi terbaru yang bertujuan menghentikan perang dan membuka kembali akses penuh di Selat Hormuz. Tuduhan ini muncul saat media AS melaporkan bahwa Gedung Putih mempertimbangkan serangan baru terhadap Iran, meskipun keputusan akhir disebut belum diambil.
Perubahan Jadwal Trump Picu Spekulasi
Situasi semakin menjadi perhatian setelah Presiden AS Donald Trump tiba-tiba mengubah rencananya dan tetap berada di Washington karena alasan keadaan yang berkaitan dengan pemerintahan. Perubahan jadwal ini memicu spekulasi bahwa krisis Iran-AS telah memasuki fase sensitif, sebagaimana diberitakan AFP pada Sabtu (23/5/2026).
Rencana B Jika Iran Menolak
Sebelumnya, AS dan sekutu dilaporkan menyiapkan rencana B jika Iran menolak membuka Selat Hormuz. Sementara itu, Teheran disebut membahas kemungkinan pungutan permanen sebagai bagian dari negosiasi.
Krisis di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi pengiriman minyak dunia, terus memanas. Iran menegaskan bahwa tuntutan AS tidak realistis dan hanya memperburuk situasi. Diplomasi masih berlangsung, namun ketegangan semakin meningkat.



