Pemerintah Iran menegaskan tidak gentar menghadapi ancaman terbaru dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump, menyusul berakhirnya kesepakatan gencatan senjata antara kedua negara. Pernyataan tegas disampaikan oleh sejumlah pejabat tinggi militer dan diplomatik Iran, setelah Trump melontarkan komentar pedas dan melancarkan serangan udara baru ke wilayah Iran.
Trump Akhiri Gencatan Senjata dan Lancarkan Ancaman
Dalam sela-sela KTT NATO di Ankara, Turki, Trump mengumumkan bahwa kesepakatan gencatan senjata dengan Iran telah berakhir. Ia menyebut para pemimpin Iran sebagai "sampah" dan "tidak waras". Trump juga menuduh Iran berulang kali menyalahartikan isi kesepakatan yang telah dicapai sebelumnya.
"Saya pikir itu sudah berakhir. Saya tidak ingin berurusan lagi dengan mereka. Mereka sampah, mereka orang-orang sakit, mereka dipimpin oleh orang-orang sakit jiwa, dan mereka orang-orang yang kejam dan brutal. Dan jika mereka memiliki senjata nuklir, mereka akan menggunakannya," ujar Trump di hadapan wartawan, seperti dirangkum detikcom.
Pernyataan Trump muncul setelah Washington melancarkan serangan terhadap Republik Islam Iran, yang kemudian dibalas oleh Iran dengan menargetkan pangkalan-pangkalan militer AS di negara-negara Teluk. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan gelombang serangan baru, yang menurut laporan media pemerintah Iran menyebabkan ledakan di beberapa lokasi di sepanjang pantai selatan Iran, termasuk Pulau Kish serta kota pelabuhan Bandar Abbas, Konarak, dan Chabahar. Sebagian wilayah dilaporkan mengalami pemadaman listrik.
"Ini sebagai pembalasan atas pemboman kapal kemarin oleh Iran," tulis Trump di Truth Social. "Jika itu terjadi lagi, akan jauh lebih buruk!" ancamnya.
Militer Iran: Pesisir Iran Akan Jadi Neraka bagi AS
Menanggapi ancaman tersebut, Kepala Staf dan Wakil Koordinator Angkatan Bersenjata Iran, Laksamana Muda Habibollah Sayyari, menyatakan bahwa pasukan Iran akan mengubah wilayah pesisir negara itu menjadi "neraka" bagi pasukan AS jika mereka berani menyerang. Dalam wawancara dengan televisi pemerintah Teheran, Sayyari menegaskan bahwa militer, kepolisian, dan paramiliter Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) telah siap siaga.
"Musuh menyadari bahwa upaya apa pun untuk mendaratkan pasukan di pesisir Iran sama saja dengan memasuki neraka dunia yang tidak memiliki jalan keluar," ucap Sayyari, seperti dilansir CBS News dan Euro News.
Ia menyebut pernyataan Trump baru-baru ini "dimaksudkan untuk membuktikan bahwa tidak ada hambatan yang mencegah kehadiran militer di pesisir Iran". Sayyari dengan tegas menantang: "Respons kami jelas: 'Jika kalian punya nyali, silakan datang'."
Markas Besar Pusat Khatam Al-Anbiya, komando militer gabungan Iran, juga mengeluarkan peringatan kepada negara-negara tetangga bahwa tindakan "memberikan dukungan" kepada pasukan AS "akan dianggap sebagai target yang sah bagi Angkatan Bersenjata Iran". Sementara itu, juru bicara Komisi Keamanan Nasional parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, menegaskan bahwa Iran "tidak gentar oleh gertakan dan ancaman dari tokoh-tokoh seperti Trump".
Menlu Iran: Kami Balas dengan Tindakan, Bukan Kata-Kata Kasar
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menanggapi pernyataan Trump yang menghina pemimpin Iran dengan sikap tenang namun tegas. Dalam pernyataan via media sosial X, Araghchi mengatakan bahwa Iran tidak menanggapi "kata-kata kasar dengan kata-kata kasar", melainkan dengan tindakan.
"Menyebut bangsa Iran yang beradab dan pemberani dengan bahasa yang merendahkan, tidak akan mengurangi keagungan mereka," kata Araghchi, seperti dilansir Press TV.
"Bangsa Iran dikenal karena kesantunan, budaya, dan nilai moral yang kuat. Kami tidak membalas kata-kata kasar dengan kata-kata kasar, melainkan dengan tindakan: tanpa rasa takut dan penuh keberanian," tegasnya.
Pernyataan Araghchi ini sekaligus menegaskan sikap resmi Teheran yang tidak gentar menghadapi tekanan dan ancaman militer dari Washington. Dengan berakhirnya gencatan senjata, ketegangan di kawasan Timur Tengah diprediksi akan meningkat, terutama di sekitar Selat Hormuz yang menjadi jalur vital energi dunia. CENTCOM menyebut serangan terbaru AS bertujuan melemahkan kemampuan Iran "untuk mengancam kebebasan navigasi" di selat yang biasanya dilalui seperlima minyak dan gas alam cair dunia.



