Iran Siap Kawal Kapal Jepang di Selat Hormuz, Menlu Tokyo: Tak Akan Minta Izin
Jakarta - Pemerintah Jepang menyatakan tidak mempertimbangkan untuk meminta izin dari Iran agar kapal-kapal tanker mereka dapat melintasi Selat Hormuz, yang saat ini efektif ditutup oleh Teheran sebagai balasan atas serangan Amerika Serikat dan Israel. Pernyataan ini disampaikan Menteri Luar Negeri Jepang, Toshimitsu Motegi, meskipun Iran sebelumnya menawarkan jaminan keamanan bagi kapal-kapal Jepang.
Ketergantungan Jepang pada Impor Minyak
Jepang sangat bergantung pada impor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah, dengan sebagian besar pasokan melewati Selat Hormuz yang terletak di Teluk Persia. Penutupan selat strategis ini oleh Iran telah memaksa negara-negara yang mengandalkan jalur pelayaran tersebut, termasuk Jepang, untuk mencari rute alternatif dan memanfaatkan cadangan minyak yang dimiliki.
Dalam sebuah program televisi Fuji Television pada Minggu (22/3/2026), Motegi menegaskan bahwa "untuk saat ini, kami tidak memikirkan hal itu" ketika ditanya apakah pemerintah akan mendesak Iran mengizinkan kapal-kapal Jepang melewati Hormuz. Komentar ini muncul setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam wawancara telepon dengan Kyodo News pada Jumat (20/3), menyatakan kesiapan Teheran untuk memastikan jalur pelayaran yang aman bagi Jepang.
Penawaran Iran dan Respons Jepang
Araghchi menekankan bahwa Iran siap membantu, dengan mengatakan, "Mereka hanya perlu menghubungi kami sehingga kami dapat membahas bagaimana transit ini dapat dilakukan." Namun, Motegi mengungkapkan bahwa dalam percakapannya dengan Araghchi pada Selasa (17/3), tidak ada penyebutan dari pihak Iran tentang bantuan khusus untuk kapal-kapal Jepang. "Keselamatan navigasi sangat penting. Itulah yang kami bicarakan," kata Motegi.
Dalam wawancara tersebut, Araghchi juga membantah bahwa Selat Hormuz sepenuhnya ditutup, dengan bersikeras "dari perspektif kami, selat itu terbuka." Ia menjelaskan bahwa penutupan hanya berlaku untuk kapal-kapal milik negara musuh yang menyerang Iran, sementara kapal dari negara lain, termasuk Jepang, tetap diizinkan melintas.
Langkah Strategis Jepang
Menghadapi ketidakpastian ini, Jepang telah mengambil langkah proaktif dengan mengumumkan pekan lalu bahwa mereka akan mulai melepaskan cadangan minyak strategisnya, yang termasuk salah satu yang terbesar di dunia. Keputusan ini mencerminkan upaya Tokyo untuk mengurangi ketergantungan pada jalur pelayaran yang rentan konflik dan menjaga stabilitas pasokan energi domestik.
Situasi ini menyoroti kompleksitas geopolitik di Timur Tengah, di mana ketegangan antara Iran dengan AS-Israel berdampak langsung pada keamanan energi global. Meski Iran menawarkan bantuan, Jepang tampaknya memilih untuk tidak bergantung pada negosiasi dengan Teheran, dan lebih fokus pada solusi internal serta diversifikasi rute untuk mengamankan pasokan minyaknya.



