Iran Sebut Ancaman Blokade Selat Hormuz Trump Sangat Konyol dan Menggelikan
Komandan Angkatan Laut Iran dengan tegas mengecam ancaman terbaru dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang berencana memberlakukan blokade laut di Selat Hormuz. Laksamana Muda Shahram Irani menyatakan bahwa ancaman tersebut dinilai sangat konyol dan menggelikan, terutama setelah kekalahan memalukan yang dialami tentara AS dalam perang ketiga yang dipaksakan.
Pemantauan Ketat terhadap Pergerakan Militer AS
Dalam pernyataan resmi yang dikutip oleh media Iran, Laksamana Irani menegaskan bahwa para prajurit Angkatan Laut Republik Islam Iran secara aktif melacak dan memantau semua pergerakan militer AS yang dianggap agresif di wilayah Selat Hormuz. Pemantauan ini dilakukan dengan cermat untuk mengantisipasi setiap kemungkinan tindakan yang dapat mengancam kedaulatan dan keamanan Iran.
"Ancaman presiden AS setelah kekalahan memalukan tentaranya dalam perang ketiga yang dipaksakan, yaitu blokade laut terhadap Iran, sangat konyol dan menggelikan," tegas komandan Angkatan Laut Iran tersebut, seperti dilaporkan oleh Press TV pada Senin, 13 April 2026.
Latar Belakang dan Respons Iran
Sebelumnya, Trump mengumumkan pada hari Minggu bahwa ia telah memerintahkan Angkatan Laut Amerika Serikat untuk memblokade Selat Hormuz, jalur air strategis yang dilalui oleh sekitar 20 persen minyak dunia. Perintah ini dikeluarkan setelah pembicaraan tingkat tinggi antara Teheran dan Washington di Islamabad, Pakistan, gagal mencapai kesepakatan yang diharapkan.
Presiden AS juga memperingatkan bahwa setiap kapal yang telah membayar bea masuk kepada Iran akan dihentikan di perairan internasional. Namun, Iran telah memberlakukan pembatasan lalu lintas melalui Selat Hormuz sejak serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari.
Kebijakan Iran dan Rancangan Undang-Undang Baru
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebelumnya telah mengumumkan bahwa selat tersebut "tidak akan pernah kembali ke keadaan semula, terutama bagi AS dan Israel." Teheran telah mengizinkan kapal-kapal milik negara-negara sahabat untuk melintasi selat, sementara melarang kapal-kapal yang berafiliasi dengan negara-negara agresor dan pendukungnya.
Parlemen Iran telah mengajukan rancangan undang-undang untuk memberlakukan biaya transit di selat tersebut dalam mata uang nasional dan secara eksplisit melarang kapal-kapal AS dan Israel. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap ancaman blokade dari AS dan untuk memperkuat kendali Iran atas jalur strategis ini.
Dengan ketegangan yang terus meningkat, situasi di Selat Hormuz menjadi sorotan dunia karena dampaknya yang signifikan terhadap pasokan minyak global dan stabilitas keamanan regional. Iran tetap berkomitmen untuk mempertahankan kedaulatannya dan menolak segala bentuk tekanan dari pihak luar.



