Iran Peringatkan AS: Pelanggaran Perjanjian Damai Akan Dibalas Tamparan Lebih Keras
Iran Peringatkan AS: Pelanggaran Perjanjian Damai Dibalas Tamparan

Jakarta - Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berakhir damai setelah kedua kepala negara menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU). Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa Teheran tidak akan mentolerir pelanggaran MoU oleh AS.

Peringatan Keras Ghalibaf

Dilansir dari kantor berita Al Jazeera, Jumat (19/6/2026), Ghalibaf memperingatkan AS untuk tidak mencoba melanggar kesepakatan tersebut. Jika itu terjadi, ia menyatakan bahwa Teheran tidak akan ragu untuk menghancurkan musuh.

"Jika terjadi itikad buruk, pelanggaran kontrak, dan tuntutan berlebihan dari pihak lawan, kami tidak akan ragu untuk memberikan respons yang menghancurkan kepada musuh," kata Ghalibaf dalam unggahan di X.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Menurut Ghalibaf, AS telah menerima tamparan berkali-kali selama perang berlangsung. Jika kesepakatan ini dilanggar, ia memperingatkan bahwa AS akan menerima tamparan yang lebih keras lagi dari Iran.

"Mereka pernah ditampar selama perang; jika mereka ingin menempuh jalan itu lagi, mereka akan menerima tamparan yang lebih keras lagi," ujarnya.

Penandatanganan MoU

Presiden AS Donald Trump menandatangani nota kesepahaman tersebut saat makan malam dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Versailles, setelah pertemuan KTT G7 pada Rabu (17/6) malam.

"Baru saja menandatanganinya," kata Trump saat keluar dari istana, seperti dilansir AFP, Kamis (18/6).

Sementara itu, pemerintah Iran juga mengonfirmasi telah menandatangani dokumen kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan AS.

"Teks Memorandum of Understanding Islamabad telah diselesaikan dengan tanda tangan para Presiden--sekarang saatnya untuk menguji implementasi perjanjian tersebut," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, seperti dikutip oleh kantor berita negara IRNA.

Baqaei mengatakan bahwa penandatanganan dilakukan secara elektronik dan jarak jauh oleh kedua Presiden, dan upacara resmi "tidak banyak memiliki tempat" dalam rencana Iran.

Trump Akui Cadangan Minyak Tinggal Empat Minggu

Trump sebelumnya mengakui bahwa cadangan minyak global berada di ambang kritis. Ia mendesak Washington untuk menerima persyaratan Iran demi perjanjian kerangka kerja guna mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz.

Berbicara di KTT G7 di Prancis, Trump mengatakan bahwa tanpa kesepakatan dengan Iran, dunia akan menghadapi "kekacauan" karena cadangan minyak akan habis dalam waktu sekitar empat minggu.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga