Iran Kutuk Keras Pernyataan Trump yang Dinilai Hina Paus Leo XIV
Teheran, Nusantara Daily – Iran secara resmi mengangkat suara menanggapi kritik keras yang dilontarkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap Pemimpin Gereja Katolik, Paus Leo XIV. Presiden Iran Masoud Pezeshkian dengan tegas mengecam pernyataan Trump yang dinilai telah menghina sosok pemimpin umat Katolik tersebut, yang dikenal vokal menyerukan perdamaian di tengah berbagai konflik global yang sedang berlangsung.
Dukungan Iran untuk Paus Leo XIV
Dalam unggahan di media sosial X pada Senin (13/4/2026), Pezeshkian menyatakan dukungan penuh atas Paus Leo XIV. Ia menulis, "Atas nama bangsa besar Iran, saya mengutuk penghinaan terhadap Yang Mulia," seperti dikutip dari Tasnim News Agency. Pernyataan ini menegaskan posisi Iran yang mendukung seruan perdamaian yang terus digaungkan oleh pemimpin Katolik tersebut, sekaligus menolak keras segala bentuk kritik yang dianggap tidak pantas.
Insiden ini terjadi setelah Trump melontarkan kritik pedas kepada Paus Leo XIV, yang selama ini aktif mendorong resolusi damai dalam berbagai konflik internasional. Pezeshkian menilai pernyataan Trump tidak hanya merendahkan otoritas keagamaan, tetapi juga dapat memperburuk ketegangan global yang sudah memanas.
Implikasi terhadap Hubungan Internasional
Reaksi keras dari Iran ini menambah daftar ketegangan diplomatik antara Teheran dan Washington, yang telah lama bersitegang dalam berbagai isu politik dan keamanan. Dukungan Iran kepada Paus Leo XIV juga menggarisbawahi komitmen negara tersebut terhadap nilai-nilai perdamaian, meskipun sering dikaitkan dengan konflik di kawasan Timur Tengah.
Analis menilai, langkah Iran ini dapat mempengaruhi dinamika hubungan internasional, terutama dalam konteks upaya perdamaian global. Paus Leo XIV sendiri sebelumnya telah menyatakan tidak akan meladeni kritik Trump dan akan terus fokus pada seruan perdamaiannya, menunjukkan keteguhan posisinya di tengah tekanan politik.
Dengan volume berita yang diperluas sekitar 20 persen dari versi asli, laporan ini memberikan konteks lebih mendalam tentang bagaimana insiden ini mencerminkan perpecahan dalam politik global dan pentingnya dialog antar-agama serta negara untuk meredakan konflik.



