Iran Bantah Keras Tuduhan Trump Soal Rudal yang Bisa Serang AS
Kementerian Luar Negeri Iran secara resmi membantah klaim Amerika Serikat terkait program rudal dan nuklirnya, dengan menyebut tuduhan tersebut sebagai "dusta besar". Pernyataan tegas ini disampaikan sebagai respons langsung terhadap pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengklaim Iran sedang mengembangkan rudal yang dapat mencapai wilayah Amerika.
Bantahan Resmi Lewat Media Sosial
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menuliskan bantahan resmi pemerintah Iran melalui platform media sosial X. "Apa pun yang mereka tuduhkan terkait program nuklir Iran, rudal balistik Iran, dan jumlah korban jiwa selama kerusuhan Januari, hanyalah pengulangan 'dusta besar'", tulis Baqaei seperti dilaporkan kantor berita AFP pada Rabu, 25 Februari 2026.
Meskipun Baqaei tidak menyebutkan secara spesifik klaim mana yang dia tanggapi, konteks waktu menunjukkan bahwa pernyataan ini merupakan respons terhadap pidato Trump sehari sebelumnya. Dalam pidato kenegaraannya pada Selasa (24/2) waktu setempat, Trump menegaskan kembali bahwa Iran tidak akan pernah diizinkan untuk memproduksi senjata nuklir.
Klaim Trump dan Respons Iran
Trump dalam pidatonya menyatakan bahwa para pemimpin Teheran "saat ini kembali mengejar ambisi nuklir mereka yang jahat". Beberapa jam sebelum bantahan Iran resmi dikeluarkan, Trump juga secara khusus menyebutkan bahwa Iran sedang mengembangkan rudal yang dapat mencapai wilayah Amerika.
Namun, pemerintah Iran telah berulang kali menegaskan posisinya bahwa mereka tidak sedang berupaya memiliki senjata nuklir. Iran bersikeras bahwa mereka memiliki hak penuh untuk menggunakan teknologi nuklir untuk tujuan damai, sesuai dengan perjanjian internasional yang berlaku.
Kemampuan Militer dan Ancaman Balasan
Sebelumnya, dalam wawancara dengan Al Jazeera awal bulan ini, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi telah menjelaskan posisi militer Iran. Araghchi menyatakan bahwa Teheran tidak memiliki kemampuan teknis untuk menargetkan Amerika Serikat secara langsung.
"Namun, jika Washington melancarkan serangan terhadap Iran, kami akan membalas dengan menyerang pangkalan-pangkalan militer Amerika di Timur Tengah", tegas Araghchi dalam wawancara tersebut. Pernyataan ini menunjukkan strategi pertahanan Iran yang lebih terfokus pada kemampuan regional daripada serangan transatlantik.
Perbedaan Data Korban Kerusuhan
Trump juga sebelumnya mengklaim bahwa otoritas Iran bertanggung jawab atas kematian 32.000 orang selama gelombang aksi protes yang mencapai puncaknya pada 8 dan 9 Januari lalu. Klaim ini mendapatkan bantahan tajam dari pemerintah Iran.
Para pejabat Iran mengakui adanya lebih dari 3.000 kematian selama periode kerusuhan, namun mereka menegaskan bahwa kekerasan tersebut disebabkan oleh "tindakan teroris" yang dipicu oleh Amerika Serikat dan Israel. Perbedaan angka yang signifikan ini menjadi salah satu poin perselisihan utama antara kedua negara.
Ketegangan yang Terus Berlanjut
Insiden terbaru ini menambah daftar panjang ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran yang telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir. Tuduhan dan bantahan terkait program nuklir dan rudal Iran terus menjadi isu sensitif yang mempengaruhi hubungan bilateral kedua negara.
Pemerintah Iran melalui pernyataan resminya menunjukkan sikap tidak mau berkompromi terhadap apa yang mereka sebut sebagai propaganda dan tuduhan tidak berdasar dari pemerintahan Trump. Sementara itu, Amerika Serikat tetap pada posisinya untuk mencegah Iran mengembangkan kemampuan nuklir dan rudal jarak jauh.



