Iran Akui Fasilitas Nuklir Natanz Kembali Diserang AS dan Israel
Iran Akui Natanz Kembali Diserang AS-Israel

Iran Akui Fasilitas Nuklir Natanz Kembali Diserang AS dan Israel

Iran secara resmi mengakui bahwa salah satu fasilitas nuklir utamanya, Natanz, kembali menjadi target serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Minggu (1/3) waktu setempat. Pengakuan ini disampaikan langsung oleh Duta Besar Iran untuk Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Reza Najafi, dalam pertemuan dewan gubernur IAEA yang beranggotakan 35 negara.

Pengakuan Resmi di Forum Internasional

"Mereka kembali menyerang fasilitas nuklir Iran yang damai dan dilindungi kemarin," tegas Najafi kepada wartawan yang hadir dalam forum IAEA tersebut. Ketika ditanya secara spesifik tentang fasilitas mana yang terkena dampak, diplomat Iran itu dengan jelas menyebutkan nama "Natanz" sebagai lokasi serangan.

Meskipun pengakuan telah diberikan, Najafi tidak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai tingkat kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan terbaru ini. Juga belum diketahui apakah ada dampak bahaya radiasi yang mengancam masyarakat sekitar akibat insiden tersebut.

Sejarah Serangan Berulang pada Natanz

Ini menjadi catatan kedua kalinya dalam waktu kurang dari setahun bahwa kompleks nuklir Natanz mengalami serangan udara. Selama perang 12 hari pada Juni tahun lalu, Natanz merupakan salah satu dari tiga fasilitas nuklir Iran – bersama Fordow dan Isfahan – yang menjadi sasaran pengeboman oleh pasukan AS dan Israel.

Serangan tahun lalu dilaporkan menyebabkan kerusakan signifikan pada bagian permukaan tanah dari Pabrik Pengayaan Bahan Bakar Percontohan di Natanz. Lebih mengkhawatirkan, aliran listrik ke lantai bawah tanah fasilitas – yang menjadi lokasi penyimpanan sentrifugal vital – sempat terputus total, mengganggu operasional sistem yang berada di bawah permukaan.

Profil Strategis Fasilitas Natanz

Fasilitas nuklir Natanz terletak sekitar 250 kilometer di selatan Teheran dan dikenal sebagai kompleks pengayaan uranium terbesar di Iran. Menurut para analis keamanan internasional, Natanz berfungsi sebagai pusat perakitan dan pengembangan sentrifugal yang mengubah uranium menjadi bahan bakar nuklir.

Berdasarkan informasi dari lembaga Nuclear Threat Initiative (NTI), kompleks Natanz terdiri dari enam bangunan di atas tanah dan tiga bangunan di bawah tanah. Dua dari bangunan bawah tanah tersebut memiliki kapasitas menampung hingga 50.000 sentrifugal, menunjukkan skala operasi yang sangat besar.

Status Pengayaan Uranium dan Implikasi Keamanan

Fasilitas ini telah beroperasi sejak tahun 2003 dan menurut laporan IAEA, Iran telah berhasil memperkaya uranium hingga kemurnian 60 persen di lokasi ini. Sebagai perbandingan, uranium tingkat senjata biasanya memerlukan pengayaan hingga 90 persen kemurnian.

Serangan berulang terhadap Natanz mengindikasikan beberapa hal penting:

  • Kompleks nuklir ini dianggap sebagai target strategis oleh kekuatan asing
  • Ada upaya sistematis untuk mengganggu program nuklir Iran
  • Infrastruktur bawah tanah Natanz tetap rentan meskipun memiliki perlindungan
  • Ketegangan nuklir di kawasan Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda

Insiden terbaru ini terjadi dalam konteks hubungan yang terus memanas antara Iran dengan negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat dan Israel, mengenai program nuklir Tehran. Meskipun Iran selalu menyatakan bahwa program nuklirnya ditujukan untuk tujuan damai, komunitas internasional tetap menyoroti dengan cermat setiap perkembangan di fasilitas-fasilitas kritis seperti Natanz.