Hubungan AS-India Retak, Trump Jadi Sorotan DW
Hubungan AS-India Retak, Trump Jadi Sorotan

Hubungan antara Amerika Serikat dan India mengalami ketegangan yang semakin memanas setelah Presiden AS Donald Trump membuat pernyataan kontroversial yang menyebut India sebagai "lubang neraka". Pernyataan tersebut menuai kecaman keras dari Pemerintah India dan memicu perdebatan di berbagai kalangan.

Pernyataan Trump yang Memicu Kemarahan

Trump membagikan cuplikan dari acara radio The Savage Nation yang dipandu oleh komentator konservatif Michael Savage. Dalam acara tersebut, Savage mengatakan: "Seorang bayi di sini langsung menjadi warga negara, lalu mereka membawa seluruh keluarga dari Cina atau India atau lubang neraka lain di planet ini." Kementerian Luar Negeri India segera merespons dengan menyebut pernyataan itu sebagai "jelas tidak berdasar, tidak pantas, dan tidak berkelas". Mereka menegaskan bahwa pernyataan tersebut tidak mencerminkan realitas hubungan India-AS yang didasarkan pada saling menghormati dan kepentingan bersama.

Tekanan Ekonomi Memperburuk Sentimen Publik

Ketegangan diplomatik ini terjadi di tengah tekanan ekonomi yang semakin membebani sentimen publik di India terhadap Washington. Pada Juli 2025, AS mengumumkan pengenaan tarif sebesar 50% terhadap India, salah satu yang tertinggi di dunia, sebagian disebabkan oleh pembelian minyak Rusia oleh India. Mantan diplomat Hemant Krishan Singh dari Delhi Policy Group menyebut hubungan AS-India berada pada "titik belok". Ia menulis bahwa "menjadikan India sebagai sasaran atas pembelian minyak Rusia sambil memberi kelonggaran kepada pembeli lain sulit dianggap sebagai hal lain selain tindakan bermusuhan." Hal ini menyebabkan kemunduran dalam kepercayaan timbal balik dan menurunnya dukungan publik di India.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Dampak pada Masyarakat India

Para ahli mencatat bahwa serangkaian insiden lain, seperti pengetatan visa H-1B yang banyak digunakan migran India, memperkuat narasi yang dianggap rasis tentang India. Jurnalis independen Karen Rebelo menjelaskan bahwa perang Iran telah membalikkan segalanya, dengan rupee mencapai titik terendah dan rantai pasok terganggu. Pemilih sayap kanan India yang sebelumnya mendukung Trump kini mulai frustrasi karena bisnis mereka terdampak. "Bahkan ada rasa iri. Mereka ingin India menjadi pihak yang menentukan, memiliki kekuatan untuk mengatur arah," ujar Rebelo.

Perubahan Narasi di Media India

Pemerintahan Modi sebagian besar bersikap menahan diri dalam merespons Trump, namun para influencer yang sejalan dengan pemerintah justru mengkritik tajam presiden AS. YouTuber dengan jutaan pengikut, seperti Nitesh Rajput dan Abhijit Chavda, mulai menjauh dari narasi "teman baik" dan mempertanyakan kewarasan Trump. Sundeep Narwani dari India Narrative Research Lab mengatakan bahwa sentimen anti-AS berada di titik tertinggi dalam beberapa waktu terakhir. Bahkan saluran TV arus utama di India kini menampilkan berita yang lebih seimbang, tidak lagi sepihak pro-AS.

Masa Depan Hubungan AS-India

Meskipun sentimen publik memburuk, hubungan India-AS kemungkinan tidak akan terganggu secara fundamental karena tetap berakar pada kepentingan strategis dan ekonomi yang kuat. Namun, perubahan di bawah permukaan semakin sulit diabaikan. Hubungan yang dulunya didorong oleh aspirasi kini dibingkai ulang melalui biaya, konsekuensi, dan persepsi ketimpangan. Kalibrasi ulang ini, yang didorong oleh tekanan ekonomi dan dinamika geopolitik, mungkin akan bertahan lebih lama dibandingkan satu ketegangan diplomatik saja.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris dan diadaptasi oleh Rahka Susanto dengan editor Yuniman Farid.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga