Houthi Kembali Melancarkan Serangan Rudal ke Israel dengan Dukungan Iran dan Hizbullah
Kelompok Houthi di Yaman telah meluncurkan serangan rudal ketiga terhadap Israel dalam konflik Timur Tengah yang sedang berlangsung. Menurut pernyataan resmi dari juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, operasi ini dilakukan bersama dengan pendukung mereka dari Iran dan kelompok Hizbullah di Lebanon.
Respons Militer Israel dan Dampak Serangan
Militer Israel dengan cepat merespons serangan ini dengan mengaktifkan sistem pertahanan udara mereka. Mereka berhasil mencegat rudal yang diluncurkan dari Yaman, dan tidak ada laporan mengenai korban jiwa atau kerusakan signifikan akibat insiden tersebut. Setelah serangan, otoritas Israel mengizinkan penduduk untuk meninggalkan ruang-ruang terlindung di seluruh wilayah negara.
Serangan ini menandai eskalasi ketiga oleh kelompok Houthi sejak mereka terlibat dalam perang di Timur Tengah. Sebelumnya, pemberontak yang didukung Iran ini telah mengklaim serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel selama akhir pekan, yang merupakan serangan pertama mereka dalam konflik antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran.
Pernyataan Houthi dan Keterlibatan Regional
Dalam pernyataan video yang dirilis pada Rabu, 1 April 2026, Yahya Saree menyatakan bahwa operasi militer ketiga ini menargetkan sasaran sensitif musuh Israel dengan menggunakan rentetan rudal balistik. Dia menekankan bahwa serangan ini dilakukan dalam koordinasi dengan saudara-saudara mujahidin di Iran dan Hizbullah di Lebanon, menunjukkan aliansi yang kuat di antara kelompok-kelompok tersebut.
Selain serangan rudal, militer Israel juga melaporkan bahwa dua drone yang diluncurkan dari Yaman telah berhasil dicegat pada hari Senin, 30 Maret 2026. Ini menunjukkan peningkatan aktivitas militer dari Yaman yang berpotensi mengancam stabilitas regional.
Implikasi bagi Pelayaran di Laut Merah
Kelompok Houthi tidak hanya mengancam Israel dengan serangan rudal, tetapi juga berpotensi mengganggu pelayaran internasional melalui Laut Merah dan Terusan Suez. Mereka sebelumnya telah mengeluarkan ancaman terhadap kapal-kapal yang melintasi selat sempit di lepas pantai Yaman, yang dapat mempengaruhi rute perdagangan global.
Dengan kemampuan untuk melancarkan serangan dari Yaman, Houthi dapat menciptakan gangguan signifikan pada pelayaran, mirip dengan yang terjadi selama puncak perang Israel di Gaza. Situasi ini menambah kompleksitas konflik Timur Tengah dan menimbulkan kekhawatiran tentang keamanan maritim di wilayah tersebut.
Serangan terbaru ini memperkuat posisi Houthi sebagai aktor kunci dalam konflik regional, sementara Israel terus memperkuat pertahanan udaranya untuk menghadapi ancaman yang terus meningkat.



