Houthi Ancam Interkvensi Militer dalam Perang AS-Israel Vs Iran, Tegaskan Posisi Tak Netral
Pemimpin kelompok militan Houthi, Abdul-Malik al-Houthi, secara tegas menyatakan bahwa pihaknya tidak netral dalam perang yang sedang berkecamuk antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran. Dalam pidato yang disiarkan televisi Al-Masirah pada Jumat, 27 Maret 2026, Al-Houthi memperingatkan bahwa kelompoknya siap melakukan intervensi militer jika perkembangan regional mengharuskannya.
Pernyataan Keras dari Pemimpin Houthi
Seperti dilaporkan oleh Anadolu Agency, Al-Houthi menyebut serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran sebagai tindakan yang tidak dapat dibenarkan. "Kami tidak netral, tetapi posisi kami berasal dari rasa memiliki terhadap Islam dan bangsa Islam," ucapnya dengan nada tegas. Dia menambahkan bahwa setiap perkembangan di lapangan akan ditanggapi dengan sikap militer jika diperlukan, mengacu pada putaran-putaran konflik sebelumnya.
Al-Houthi juga mengkritik dampak serangan AS-Israel terhadap kepentingan ekonomi banyak negara di dunia, serta pengaruhnya pada keamanan dan stabilitas regional. Dia menuduh bahwa AS dan Israel berupaya melaksanakan rencana Zionis yang menargetkan semua negara di kawasan Timur Tengah, dengan tujuan mengubah wilayah tersebut dan menciptakan Israel Raya.
Latar Belakang dan Peran Houthi dalam Konflik Regional
Kelompok Houthi, yang didukung oleh Iran, telah menguasai sebagian besar wilayah Yaman, termasuk ibu kota Sanaa, sejak tahun 2014 ketika konflik sipil pecah di negara itu. Sejak perang berkecamuk di Jalur Gaza antara Hamas dan Israel pada tahun 2023, Houthi telah melancarkan serangkaian serangan rudal dan drone terhadap target di Israel serta kapal-kapal yang melintas di Laut Merah.
Kelompok ini menyatakan bahwa serangan-serangannya merupakan pembalasan atas serangan mematikan Israel di Jalur Gaza, yang telah menewaskan lebih dari 72.000 orang. Situasi di Timur Tengah semakin memanas setelah AS dan Israel melancarkan serangan gabungan skala besar terhadap Iran pada 28 Februari 2026, yang menyebabkan sedikitnya 1.340 korban tewas, termasuk pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Dampak dan Balasan dari Iran
Iran membalas serangan AS-Israel dengan gelombang serangan rudal dan drone terhadap target di Israel dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS. Serangan balasan ini menyebabkan kerusakan dan korban luka di Israel serta negara-negara Teluk. Dilaporkan bahwa sedikitnya 13 tentara AS di negara-negara Teluk tewas, sementara 290 lainnya luka-luka, dengan 10 personel mengalami cedera serius.
Ancaman intervensi militer dari Houthi ini menambah kompleksitas konflik yang sudah berlarut-larut di kawasan Timur Tengah, dengan potensi eskalasi yang lebih besar jika kelompok tersebut benar-benar turun tangan secara langsung.



