Pakar UI Bicara Dua Skenario Serangan AS ke Iran Akhir Pekan Ini
Dua Skenario Serangan AS ke Iran Menurut Pakar UI

Pakar UI Paparkan Dua Skenario Terkait Ancaman Serangan AS ke Iran

Jakarta - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas dengan isu serangan Amerika Serikat (AS) ke Iran yang disebut-sebut berpotensi terjadi akhir pekan ini. Pakar hukum internasional memberikan analisis mendalam mengenai dua skenario yang mungkin terjadi.

Kesiapan Militer AS dan Ancaman Trump

Pengerahan militer Amerika Serikat secara besar-besaran di kawasan Timur Tengah telah menciptakan situasi yang sangat tegang. Kapal perang, jet tempur, dan pesawat pengisi bahan bakar telah dikerahkan, menciptakan dasar operasional untuk potensi serangan berkelanjutan terhadap Iran.

Presiden Donald Trump, yang sebelumnya memerintahkan serangan terhadap Iran tahun lalu, terus mengancam Teheran dengan tindakan militer jika perundingan yang sedang berlangsung tidak mencapai kesepakatan pengganti untuk perjanjian nuklir 2018 yang dibatalkannya sendiri.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Laporan dari media-media terkemuka AS seperti CNN dan CBS, seperti dilansir AFP, menyebut bahwa militer AS akan siap melancarkan serangan terhadap Iran paling cepat pada akhir pekan ini, meskipun Trump belum membuat keputusan akhir.

Dua Kemungkinan Menurut Pakar UI

Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI), Hikmahanto Juwana, memaparkan dua kemungkinan skenario yang bisa terjadi dalam situasi ini.

Kemungkinan Pertama: Serangan Ditunda sebagai Strategi Negosiasi

"Sampai detik ini menurut saya masih ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, serangan ditunda karena kalau disebutkan Sabtu akan diserang itu sebagai gertakan Trump agar Iran segera menyepakati apa yang dinegosiasi antara AS dengan Iran," kata Hikmahanto kepada wartawan, Jumat (20/2/2026).

Menurut analisisnya, AS mungkin menganggap Iran mengulur-ulur waktu untuk mencapai kesepakatan dalam perundingan yang sedang berlangsung. Jika ini terjadi, ancaman serangan hanyalah bagian dari taktik tekanan diplomatik.

"Kalau kemungkinan pertama maka ini menjadi pukulan pada Trump. Karena di AS Trump disebut sebagai TACO atau Trump Always Chicken Out (Trump akan Takut dengan Keputusannya)," tambah Hikmahanto.

Kemungkinan Kedua: Serangan Benar-benar Terjadi

"Kemungkinan kedua memang Trump akan lakukan serangan. Bila ini terjadi, Iran sudah menyiapkan diri. Bahkan sejumlah pesawat militer Rusia sudah datang ke Iran. Sepertinya Rusia akan mendukung Iran," papar Hikmahanto.

Dia menambahkan bahwa jika serangan benar-benar terjadi, konflik berpotensi meluas secara signifikan. "Bukannya tidak mungkin Iran akan menyerang Israel karena tahu kelemahan AS ada di Israel," ujarnya.

Dukungan Rusia dan Potensi Eskalasi Konflik

Kehadiran pesawat militer Rusia di Iran menjadi faktor penting dalam analisis ini. Hikmahanto menekankan bahwa dukungan Rusia terhadap Iran dapat mengubah dinamika konflik secara dramatis.

"Bila ini terjadi perang akan meluas. Ini bukan sekadar konflik bilateral antara AS dan Iran, tetapi bisa melibatkan kekuatan regional dan global lainnya," jelas pakar hukum internasional tersebut.

Lebih lanjut, Hikmahanto mengingatkan bahwa karakteristik kepemimpinan Trump memang sering menggunakan ancaman sebagai alat negosiasi. "Kalau kemungkinan pertama maka ini menjadi pukulan pada Trump. Karena di AS Trump disebut sebagai TACO atau Trump Always Chicken Out," katanya.

Persiapan Militer dan Pengarahan Gedung Putih

Menurut sejumlah sumber yang dikutip CNN, Gedung Putih telah diberi pengarahan bahwa militer dapat siap melancarkan serangan pada akhir pekan. Persiapan ini dilakukan setelah peningkatan signifikan dalam pengerahan aset-aset angkatan udara dan angkatan laut di Timur Tengah dalam beberapa hari terakhir.

Situasi ini menciptakan ketidakpastian global yang signifikan, dengan banyak negara mengamati perkembangan dengan cermat. Keputusan Trump dalam beberapa hari ke depan akan menentukan apakah ancaman ini akan menjadi kenyataan atau tetap sebagai alat tekanan diplomatik.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga