Rutan Muntok Bekali Narapidana dengan Keterampilan Produktif untuk Masa Depan
Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Muntok mengambil langkah inovatif dengan membekali warga binannya dengan keterampilan produktif melalui pelatihan khusus di bidang perkebunan dan peternakan. Program ini dirancang untuk mendukung proses asimilasi dan memperkuat ketahanan pangan, sekaligus mempersiapkan narapidana untuk reintegrasi ke masyarakat setelah bebas.
Kolaborasi dengan Sektor Swasta untuk Pelatihan Berkualitas
Kepala Rutan Muntok, Andri Ferly, menjelaskan bahwa pihaknya akan menjalin kolaborasi dengan sektor swasta, khususnya Bintang Pratama Farm, untuk menyelenggarakan pelatihan ini. "Secara filosofis, program ini adalah bagian dari proses asimilasi. Dalam perspektif pemasyarakatan, asimilasi merupakan proses membaurkan warga binaan ke dalam kehidupan masyarakat melalui pengawasan," ujar Andri Ferly dalam acara panen raya di Bintang Pratama Farm, Sabtu (4/4/2026).
Dia menekankan bahwa kerja sama ini dipilih karena reputasi Bintang Pratama Farm yang mumpuni dalam pengelolaan pertanian dan peternakan terintegrasi. Narapidana akan mendapatkan pendampingan langsung dari para mentor, sehingga mereka dapat belajar secara praktis dan efektif.
Manfaat Pelatihan untuk Disiplin dan Etos Kerja
Melalui kegiatan di area perkebunan dan peternakan, narapidana akan berlatih kedisiplinan dan etos kerja. Andri Ferly menambahkan bahwa keterlibatan pihak swasta memberikan angin segar bagi pemasyarakatan, karena dengan memiliki keterampilan yang mumpuni, narapidana diharapkan dapat bekerja secara profesional dan bahkan membuka lapangan kerja sendiri setelah bebas.
Program ini juga memberikan kesempatan bagi narapidana untuk memulihkan fungsi sosial dan berinteraksi langsung dengan lingkungan luar, yang merupakan langkah penting dalam mengurangi dampak psikologis akibat isolasi.
Dukungan dari Mitra untuk Motivasi dan Ketahanan Pangan
Pimpinan Bintang Pratama Farm, Izkar, mengaku sangat mendukung program asimilasi ini. "Saya punya keyakinan jika mereka ingin kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang. Wajar jika kita harus memberikan kesempatan," ucap Izkar. Dia menjelaskan bahwa narapidana akan dilibatkan dalam kegiatan yang mendukung ketahanan pangan, seperti peternakan ayam petelur dan budidaya palawija.
Izkar menambahkan bahwa tempat ini tidak sekadar menjadi ruang terbuka hijau, tetapi juga sebagai wahana edukasi dan rekreasi yang menyenangkan. "Mereka akan belajar langsung dari alam, melalui peternakan ayam petelur. Hasil ternak ini menjadi nilai komersial, sementara kotorannya diolah menjadi pupuk kompos," pungkasnya.
Tujuan Jangka Panjang: Rehabilitasi dan Reintegrasi Sosial
Andri Ferly menegaskan bahwa fungsi paling mendasar dari asimilasi adalah memulihkan kehidupan bermasyarakat. "Penjara bukan lagi sekadar tempat penghukuman terhadap pelaku kejahatan, melainkan menjadi rehabilitasi dan reintegrasi sosial. Di sinilah asimilasi memegang peranan krusial sebagai jembatan yang menghubungkan narapidana dengan masyarakat," ucap dia.
Program pelatihan ini diharapkan dapat menjadi model bagi rutan lainnya dalam upaya meningkatkan kualitas hidup warga binaan dan kontribusi mereka terhadap ketahanan pangan nasional.



