Demo Membara di Iran, Warga Ratapi Gugurnya Ali Khamenei dan Kutuk AS-Israel
Warga Iran meneriakkan slogan-slogan yang mengutuk Amerika Serikat dan Israel dalam gelombang demonstrasi yang meluas di seluruh negeri. Aksi protes ini dipicu oleh pengumuman resmi mengenai gugurnya pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan militer gabungan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel.
Demonstrasi Meluas di Kota-Kota Iran
Pada Minggu, 1 Maret 2026, ribuan warga Iran turun ke jalan di berbagai kota untuk menyuarakan kesedihan dan kemarahan mereka. Di Teheran, ratusan orang berkumpul di Lapangan Inkilap, mengibarkan bendera Iran serta poster-poster bergambar Khamenei, sambil meneriakkan kutukan terhadap AS dan Israel. Suasana duka juga terasa kuat di kota suci Qom, di mana massa berkumpul di makam Hazrat Masume untuk mengecam serangan tersebut.
Di Mashhad, para pelayat mengungkapkan rasa duka dengan membentangkan bendera hitam di atas kubah Makam Imam Reza, salah satu situs keagamaan paling dihormati di Iran. Dilaporkan, banyak warga yang terlihat meneteskan air mata di sekitar makam tersebut, mencerminkan kedalaman kesedihan yang melanda masyarakat.
Kematian Khamenei Dikonfirmasi oleh Media Pemerintah
Media pemerintah Iran mengkonfirmasi bahwa Khamenei kehilangan nyawanya selama serangan AS-Israel, dengan menyatakan bahwa "pemimpin revolusi Islam Iran telah mencapai kemartiran." Pemerintah kemudian menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari dan hari libur resmi selama tujuh hari sebagai bentuk penghormatan.
Menurut para pejabat, Khamenei sedang berada di kantornya di Teheran saat serangan pada Sabtu pagi terjadi, yang secara langsung mengenai dan menewaskannya. Klaim ini ditegaskan oleh pemerintah Iran, yang membantah laporan bahwa Khamenei bersembunyi di bawah tanah selama serangan. Mereka menekankan bahwa dia "sedang menjalankan tugasnya, berada di tengah masyarakat" pada saat itu, menggambarkan kematiannya sebagai cerminan peran kepemimpinan publiknya sepanjang hidup.
Korban Jiwa dan Dampak Serangan
Serangan tersebut tidak hanya menewaskan Khamenei, tetapi juga mengakibatkan korban jiwa yang lebih luas. Sumber-sumber Iran melaporkan bahwa beberapa anggota keluarga Khamenei, termasuk putrinya, menantu laki-lakinya, cucunya, dan menantu perempuannya, tewas dalam insiden ini. Laporan dari Bulan Sabit Merah Iran menyatakan bahwa serangan tersebut menyebabkan 201 orang tewas dan 747 luka-luka, menandakan dampak yang signifikan terhadap warga sipil.
Demonstrasi yang berlangsung di berbagai kota Iran mencerminkan gelombang emosi yang kuat di tengah masyarakat, dengan warga tidak hanya meratapi kehilangan pemimpin mereka tetapi juga menyuarakan penolakan terhadap intervensi asing. Situasi ini memperburuk ketegangan di Timur Tengah, dengan pemerintah Iran menetapkan langkah-langkah berkabung dan menghadapi tantangan dalam proses transisi kepemimpinan.



