Masa Depan Quad Dipertaruhkan: China Menguat, AS-India Bersitegang
China Menguat, AS-India Bersitegang, Masa Depan Quad Dipertaruhkan

Para menteri luar negeri dari Amerika Serikat, India, Jepang, dan Australia yang tergabung dalam Quadrilateral Security Dialogue (Quad) sepakat memperluas infrastruktur pertahanan di kawasan Indo-Pasifik. Pertemuan yang berlangsung di New Delhi selama tiga hari sejak Minggu (24/5) itu membahas keamanan Indo-Pasifik, pasokan energi, dan teknologi baru.

Pertemuan ini terjadi di tengah meningkatnya agresivitas China yang terus menguji batas-batas geopolitik dan keamanan di kawasan tersebut. Namun, isu yang membayangi pertemuan adalah bagaimana menjaga aliansi tetap hidup dan relevan di tengah lanskap geopolitik yang semakin menantang.

Tarif dan Diplomasi Trump Picu Ketegangan dengan India

Quad, yang menyatukan empat negara dalam mewujudkan Free and Open Indo-Pacific (FOIP), belum menggelar pertemuan tingkat pemimpin nasional sejak 2024, saat Presiden Joe Biden menjadi tuan rumah di Wilmington, Delaware. India seharusnya menjadi tuan rumah pertemuan tahunan berikutnya pada paruh kedua 2025, namun agenda itu batal di tengah ketegangan dengan pemerintahan Presiden Donald Trump.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Trump memberlakukan tarif dan bea tambahan terhadap impor dari India ke AS, memperburuk hubungan dengan Perdana Menteri Narendra Modi. Trump juga memicu kemarahan New Delhi setelah mengklaim telah menengahi penyelesaian bentrokan perbatasan India-Pakistan pada Mei lalu, serta mengkritik India karena membeli peralatan militer dari Rusia.

Misi Diplomatik Sensitif Rubio

Setahun kemudian, Menteri Luar Negeri Marco Rubio memimpin delegasi AS ke India untuk meredakan ketegangan diplomatik. Dengan perhatian Trump yang lebih terfokus pada perang di Timur Tengah dan Kuba, misi Rubio diperkirakan tidak mudah.

James Brown, profesor hubungan internasional di Temple University kampus Tokyo, mengatakan bahwa AS, Jepang, dan Australia sebenarnya sudah memiliki kerja sama keamanan trilateral yang efektif. Namun, tujuan utama Quad adalah membawa India sebagai kekuatan tambahan agar aliansi memiliki pengaruh lebih besar. Sayangnya, pemerintahan AS saat ini tampaknya tidak memahami pentingnya India sebagai sekutu, membuat Modi kecewa.

Jepang dan Australia berupaya menjaga aliansi tetap utuh. Brown menilai Quad justru diuntungkan karena AS diwakili Rubio, bukan Trump. Derek Grossman dari University of Southern California memperingatkan bahwa jika Trump menolak menghadiri pertemuan pemimpin Quad berikutnya di Australia pada akhir 2026, Quad akan terdegradasi dan bahkan bisa berakhir. Dalam skenario itu, China menjadi pihak yang paling diuntungkan.

Joseph Kristanto, analis keamanan maritim di S. Rajaratnam School of International Studies Singapura, mengatakan Beijing secara konsisten memandang Quad dengan kecurigaan dan menggambarkannya sebagai upaya pembendungan terhadap China.

Ancaman terhadap Keamanan Kawasan

Kristanto menambahkan bahwa Quad yang melemah akan memperkuat narasi menurunnya komitmen AS, ketidaksatuan sekutu, dan keterbatasan kerja sama keamanan minilateral. Negara-negara kecil di kawasan juga akan resah karena mencari keseimbangan kekuatan yang stabil tanpa harus memilih pihak. Namun, ia menepis anggapan bahwa aliansi berada di ambang kehancuran.

Menurutnya, ketegangan di Quad justru menunjukkan tantangan dalam mengelola kemitraan antara empat negara dengan budaya strategis, prioritas, dan ekspektasi berbeda. Quad yang dibentuk pada 2007 atas dorongan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe bukanlah aliansi perjanjian dengan komitmen mengikat, melainkan struktur informal dan fleksibel yang memberi ketahanan tersendiri. Quad juga pernah melewati periode vakum politik, termasuk saat Australia di bawah Kevin Rudd sempat menjauh karena khawatir merugikan kepentingan bisnis di China.

Namun, para ahli menilai hubungan AS-India harus diperbaiki agar aliansi bertahan. Kristanto mengatakan bahwa meski kerja sama pertahanan semakin dalam, Washington dan New Delhi masih memiliki perspektif berbeda. AS memandang India sebagai mitra strategis utama untuk menjaga keseimbangan kawasan, sementara India berpegang pada prinsip otonomi strategis dan hati-hati terhadap aliansi formal. Perbedaan pandangan mengenai Rusia, perdagangan, dan ekspektasi politik turut memperumit hubungan, namun faktor struktural seperti kekhawatiran bersama terhadap China tetap menopang hubungan tersebut.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Apakah Quad Menuju Kebuntuan Strategis?

Kristanto menilai tantangan paling serius bagi Quad adalah stagnasi, dengan semakin sedikit pertemuan tingkat tinggi, menurunnya momentum, dan hilangnya relevansi politik. Jika fokus Washington bergeser, pembahasan penambahan anggota baru seperti Korea Selatan, Selandia Baru, dan Vietnam dalam skema Quad-plus bisa kembali menguat.

Saat ini, perhatian tertuju pada posisi Rubio selama di India. Kristanto mengatakan bahwa isu utamanya bukan menghilangkan seluruh ketegangan, tetapi menunjukkan komitmen politik berkelanjutan, mempertahankan kerja sama praktis, dan mencegah persepsi kebuntuan strategis. Masa depan Quad kemungkinan tidak bergantung pada persatuan sempurna, melainkan kemampuan mempertahankan kerja sama meski memiliki perbedaan.