China Kecam Perang di Timur Tengah: Dunia Tak Boleh Kembali ke Hukum Rimba
China Kecam Perang di Timur Tengah: Tolak Hukum Rimba

China Kecam Perang di Timur Tengah: Serukan Dunia Hindari Hukum Rimba

Menteri Luar Negeri China Wang Yi secara tegas mengutuk perang di Timur Tengah yang dipicu oleh serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Dalam konferensi pers di Beijing, diplomat top China itu menyatakan bahwa konflik tersebut seharusnya tidak pernah terjadi, menekankan bahwa dunia tidak boleh kembali ke era hukum rimba di mana kekuatan fisik mengalahkan alasan yang kuat.

Pernyataan Tegas dalam Pertemuan Politik Tahunan

Pernyataan Wang Yi disampaikan selama pertemuan politik tahunan China yang dikenal sebagai Dua Sesi, yang melibatkan parlemen dan badan konsultatif politik. Pertemuan ini dipantau ketat untuk mengidentifikasi prioritas para pemimpin China di tengah lanskap geopolitik yang semakin genting. Wang Yi membahas berbagai isu global, termasuk perang dagang dengan AS, ketegangan di Laut China Selatan, serta konflik di Timur Tengah dan Ukraina.

Tinju yang kuat tidak berarti alasan yang kuat. Dunia tidak dapat kembali ke hukum rimba, tegas Wang Yi, mengkritik pendekatan militeristik dalam menyelesaikan sengketa internasional.

Ketegangan Hubungan AS-China dan Perang Dagang

Wang Yi menegaskan bahwa tahun 2026 merupakan periode krusial bagi hubungan Sino-AS, yang telah memanas sejak kembalinya Presiden Donald Trump ke Gedung Putih. Ketegangan ini diperburuk oleh perang dagang yang memicu saling memberlakukan tarif balasan antara kedua negara.

Kami mengamati beberapa negara membangun hambatan tarif dan mengejar pemisahan serta gangguan rantai pasokan, ujar Wang. Tindakan ini seperti mencoba memadamkan api dengan bahan bakar. Pada akhirnya, tindakan tersebut akan berbalik dan merugikan diri sendiri.

Meskipun China dan AS tidak dapat mengubah satu sama lain, Wang mendesak kedua belah pihak untuk menciptakan lingkungan yang kondusif, mengelola perbedaan, dan menghilangkan campur tangan yang tidak perlu dalam hubungan bilateral.

Kecaman terhadap Serangan Militer dan Dukungan untuk Rusia

China secara khusus mengutuk serangan militer AS dan Israel terhadap Iran, yang memiliki hubungan diplomatik dan perdagangan erat dengan Beijing. Wang Yi juga menyoroti pembunuhan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, sebagai tindakan yang tidak dapat diterima.

Di sisi lain, Wang Yi menegaskan bahwa hubungan China dengan Moskow tetap kokoh dan tak tergoyahkan, meskipun Rusia dikritik oleh negara-negara Barat karena dukungannya dalam perang di Ukraina. Pernyataan ini menggarisbawahi komitmen China untuk menjaga aliansi strategis di tengah tekanan internasional.

Dengan seruan untuk menghindari hukum rimba dan mendorong dialog damai, China menempatkan diri sebagai penengah dalam konflik global, sambil mempertahankan kepentingan nasionalnya dalam arena geopolitik yang kompleks.