AS Tegas Blokade Pelabuhan Iran: Pantau Setiap Kapal di Selat Hormuz
Militer Amerika Serikat menyatakan dengan tegas akan terus menegakkan secara penuh blokade maritim terhadap kapal-kapal yang memasuki atau keluar dari pelabuhan dan wilayah pesisir Iran. Pernyataan ini disampaikan oleh kepala Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, dalam konferensi pers pada hari Jumat (17/4) waktu setempat.
"Kami mengawasi setiap kapal Iran di setiap pelabuhan, titik," tegas Cooper kepada para wartawan. Dia menambahkan bahwa pasukan AS di Timur Tengah memiliki kemampuan untuk mempertahankan blokade tersebut selama diperlukan, sesuai dengan kebijakan pemerintah Amerika Serikat.
Pengawasan Ketat dan Pelanggaran yang Dihadang
Sejak blokade diberlakukan pada hari Senin lalu, Cooper mengungkapkan bahwa 19 kapal telah mencoba melanggar blokade yang diterapkan oleh Amerika Serikat. Namun, semua kapal tersebut akhirnya berbalik arah dan kembali ke pelabuhan setelah menerima peringatan dari pihak AS.
"Tidak ada kapal yang telah atau akan menghindari pasukan AS," kata Cooper dalam panggilan telepon pada hari Jumat. Meskipun demikian, dia mengakui bahwa ada beberapa kapal yang menarik perhatian dan terus dipantau dengan ketat oleh militer AS, baik di dalam maupun di luar batas blokade yang telah ditetapkan.
Cooper menegaskan kembali komitmen pengawasan dengan menyatakan, "Kami mengawasi setiap kapal tersebut." Pernyataan ini menunjukkan intensitas operasi militer Amerika Serikat di kawasan strategis tersebut.
Ancaman Iran dan Respons AS
Sebelumnya, Iran telah mengumumkan pada hari Jumat bahwa mereka membuka Selat Hormuz selama gencatan senjata di Timur Tengah. Namun, Presiden AS Donald Trump dengan tegas menyatakan bahwa blokade yang diberlakukan oleh Amerika Serikat akan tetap berlaku sampai kesepakatan sepenuhnya tercapai antara Washington dan Teheran.
Pemerintah Iran merespons dengan ancaman akan menutup kembali Selat Hormuz jika Amerika Serikat melanjutkan blokade pelabuhan-pelabuhan Iran. "Dengan berlanjutnya blokade, Selat Hormuz tidak akan tetap terbuka," tulis Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, dalam unggahan di media sosial X, seperti dilansir kantor berita AFP pada Sabtu (18/4/2026).
Ghalibaf menambahkan bahwa perlintasan melalui perairan Selat Hormuz memerlukan izin dari Iran, menegaskan kedaulatan negara tersebut atas jalur laut vital tersebut.
Pentingnya Selat Hormuz bagi Pasar Global
Selat Hormuz merupakan jalur utama global yang sangat strategis, karena biasanya dilalui oleh seperlima dari total minyak mentah dan gas alam cair yang diperdagangkan di seluruh dunia. Blokade yang diterapkan oleh Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran berpotensi mengganggu aliran energi global, meskipun Cooper menekankan bahwa pengawasan dilakukan untuk mencegah pelanggaran.
Dilansir dari Al Arabiya pada Sabtu (18/4/2026), Cooper menegaskan bahwa kemampuan militer AS di kawasan Timur Tengah memungkinkan untuk mempertahankan blokade ini dalam jangka panjang, sesuai dengan kebutuhan kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
Situasi ini mencerminkan ketegangan yang terus berlanjut antara Amerika Serikat dan Iran, dengan blokade maritim menjadi alat tekanan dalam dinamika hubungan kedua negara. Pengawasan ketat terhadap setiap kapal Iran menunjukkan komitmen AS untuk menegakkan kebijakan tersebut tanpa kompromi.



