KOMPAS.com - Amerika Serikat dan Iran akhirnya sepakat untuk menyudahi perang dan siap membuka Selat Hormuz. Keputusan damai yang mengejutkan ini langsung membuat harga minyak mentah dunia anjlok, membawa angin segar di tengah kepanikan krisis energi global.
Pengumuman Kesepakatan Damai
Kabar baik ini pertama kali diumumkan pada Senin dini hari oleh Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, yang bertindak sebagai penengah konflik. Dalam pernyataannya, Sharif menyampaikan bahwa setelah pembicaraan intensif, kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran telah tercapai.
"Setelah pembicaraan intensif, kami dengan senang hati mengumumkan bahwa kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran telah tercapai. Kedua belah pihak menyatakan akan menghentikan segera bahkan secara permanen menghentikan operasi militer di semua front termasuk Lebanon," tuturnya dari akun X miliknya, @CMShehbaz yang dikutip Senin (15/6/2026) dini hari.
Dampak terhadap Harga Minyak
Kesepakatan ini langsung berdampak pada pasar energi global. Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan tajam karena kekhawatiran gangguan pasokan dari Selat Hormuz mereda. Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang menghubungkan produsen minyak utama di Timur Tengah dengan pasar global.
Sebelumnya, ketegangan antara AS dan Iran telah memicu kekhawatiran akan konflik berkepanjangan yang dapat mengganggu pasokan minyak. Namun, dengan tercapainya kesepakatan damai ini, pasar merespons positif dan harga minyak pun turun drastis.
Peran Pakistan sebagai Penengah
Pakistan memainkan peran penting dalam mediasi konflik ini. Perdana Menteri Shehbaz Sharif berhasil membawa kedua belah pihak ke meja perundingan dan mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan. Langkah ini diapresiasi oleh komunitas internasional sebagai upaya diplomasi yang efektif.
Dengan berakhirnya perang, diharapkan stabilitas kawasan Timur Tengah dapat pulih dan krisis energi global dapat teratasi secara bertahap. Masyarakat dunia kini menanti implementasi kesepakatan damai ini di lapangan.



