Amien Rais: Pertahankan Pemerintahan Prabowo Hingga 2029
Amien Rais: Pertahankan Prabowo Hingga 2029

Amien Rais: Pertahankan Pemerintahan Prabowo Hingga 2029

Mantan Ketua MPR RI, Amien Rais, menyerukan kepada seluruh elemen bangsa untuk menjaga stabilitas politik nasional dengan mempertahankan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto hingga masa jabatannya berakhir pada 20 Oktober 2029. Seruan ini disampaikan Amien melalui kanal YouTube resminya pada Jumat, 12 Juni 2026.

Ketua Majelis Syuro Partai Ummat itu menegaskan bahwa ritme pergantian kekuasaan setiap lima tahun sekali merupakan amanat Undang-Undang Dasar 1945 yang harus dihormati. Hal ini penting untuk mencegah guncangan politik yang tidak perlu di tingkat pusat. "Ritme pergantian kekuasaan per 5 tahun sekali sesuai Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945 harus kita pertahankan supaya tidak ada pemerintahan pusat yang diturunkan di tengah jalan," ujar Amien.

Menurut Amien, sebuah pemerintahan hanya boleh dijatuhkan sebelum masa jabatannya habis jika terjadi alasan yang sangat luar biasa, seperti tindak pidana berat membocorkan rahasia negara kepada pihak asing demi imbalan materi, atau keterlibatan dalam skandal moral yang fatal. Di luar kondisi tersebut, ia menilai Presiden Prabowo Subianto harus diberikan kesempatan yang wajar untuk merealisasikan delapan program prioritasnya atau Astra Cita, yang mencakup penguatan demokrasi Pancasila, pemenuhan hak asasi manusia, penguatan pertahanan-keamanan, penciptaan lapangan kerja, hingga kesetaraan gender.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Mekanisme Pemakzulan yang Rumit

Amien menggarisbawahi bahwa secara hukum tata negara, proses memakzulkan seorang kepala negara di Indonesia sangatlah kompleks. Berdasarkan Pasal 7B UUD 1945, usulan pemakzulan harus melalui persetujuan berlapis yang ketat di DPR, evaluasi selama 90 hari di Mahkamah Konstitusi, hingga keputusan akhir di MPR. Melihat konstelasi politik dan kepemimpinan parlemen saat ini, ia menilai wacana pemakzulan, baik terhadap Presiden Prabowo maupun Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, adalah hal yang hampir mustahil.

"Mengharapkan para anggota DPR-MPR berani memaksa Presiden Prabowo, rasa-rasanya itu mustahil. Semarah apa pun kita pada Gibran, dengan konstelasi pimpinan DPR-MPR yang sekarang ini, kiranya melakukan impeachment terhadap Gibran itu juga amat sangat sulit," ujar tokoh Reformasi 1998 itu. Ia kemudian mengingatkan memori kelam sejarah politik Indonesia pada periode 1998 hingga 2004, ketika Indonesia mengalami situasi ganjil dengan pergantian lima presiden dalam waktu singkat yang sangat menguras energi nasional.

Kelesuan Ekonomi dan Potensi Gejolak

Meski mendukung Prabowo menyelesaikan masa jabatan, Amien tidak menampik adanya keprihatinan mendalam terhadap situasi sosial-ekonomi saat ini. Ia menyebut kondisi bangsa sedang tidak baik-baik saja, ditandai dengan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal dan lesunya aktivitas ekonomi di pasar-pasar tradisional. Atas dasar itu, ia mengimbau Prabowo dan jajaran menteri kabinet menghentikan aksi pamer kemewahan atau aktivitas hiburan yang tidak sensitif terhadap kesulitan rakyat.

"Kurangi semaksimal mungkin suasana pesta pora para menteri. Terutama Pak Prabowo jangan pernah joget-joget lagi dan sempat difoto begitu, adegan-adegan bermewah-mewah sampai disiarkan ke publik. Reaksi masyarakat seragam yaitu marah," tegasnya. Ia khawatir, jika tekanan ekonomi seperti pelemahan nilai tukar rupiah dan penarikan uang massal (rush domestik) terus berlanjut, hal itu dapat memicu keresahan sosial yang berujung pada gerakan massa (people power) yang lebih beringas dibanding tahun 1998.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga