Beberapa dekade lalu, pendidikan tinggi dipandang sebagai 'tangga mobilitas sosial'. Seorang anak petani dapat menjadi dokter. Anak buruh dapat menjadi dosen. Anak pedagang kecil dapat menjadi ekonom atau insinyur. Kampus menjadi ruang yang memungkinkan seseorang melompat dari keterbatasan ekonomi menuju kehidupan yang lebih baik.
Perubahan Narasi Pendidikan Tinggi
Namun, hari ini narasi tersebut mulai berubah. Pendidikan tinggi yang dahulu dianggap sebagai instrumen pemerataan kesempatan perlahan berubah menjadi komoditas yang semakin mahal. Biaya masuk perguruan tinggi meningkat, Uang Kuliah Tunggal (UKT) terus disesuaikan, biaya hidup mahasiswa di kota-kota besar melonjak, sementara daya beli masyarakat, terutama kelas menengah, mengalami tekanan yang tidak ringan.
Dampak pada Akses Pendidikan
Kenaikan biaya ini mempersempit akses bagi calon mahasiswa dari latar belakang ekonomi rendah. Beasiswa dan bantuan pendidikan belum sepenuhnya menjangkau semua yang membutuhkan. Akibatnya, kesenjangan sosial semakin melebar, di mana hanya mereka yang mampu secara finansial yang dapat menikmati pendidikan tinggi berkualitas.
Fenomena ini memicu diskusi tentang perlunya reformasi sistem pendidikan tinggi agar kembali menjadi alat mobilitas sosial yang inklusif. Pemerintah dan institusi pendidikan diharapkan dapat mencari solusi untuk menekan biaya tanpa mengorbankan kualitas, serta memperluas program bantuan bagi mahasiswa kurang mampu.



