Eskalasi Konflik Laut: AS dan Iran Saling Serang di Perairan Strategis
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas di penghujung masa gencatan senjata yang telah disepakati sebelumnya. Insiden saling serang di laut terjadi di kawasan Laut Arab Utara dekat Teluk Oman, menandai babak baru konflik yang mengancam stabilitas kawasan.
AS Tembak dan Sita Kapal Kargo Iran Touska
Pasukan Amerika Serikat melancarkan operasi militer terhadap kapal kargo berbendera Iran bernama Touska. Kapal dengan panjang hampir 900 kaki dan berat setara kapal induk tersebut dicoba dihentikan oleh Angkatan Laut AS karena diduga mencoba menerobos blokade di Teluk Oman.
Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi insiden ini melalui unggahan di platform Truth Social. "Kapal angkatan laut kami menghentikan mereka tepat di jalur mereka dengan meledakkan lubang di ruang mesin. Saat ini, marinir AS telah mengamankan kapal tersebut," tulis Trump seperti dilansir CNN dan AFP.
Kapal Perusak USS Spruance yang terlibat dalam operasi ini awalnya memberikan peringatan kepada awak kapal Iran untuk berhenti. Namun, menurut pernyataan Trump, awak kapal tersebut menolak mematuhi perintah sehingga memicu tindakan lebih lanjut dari pihak AS.
Iran Balas dengan Serangan Drone ke Kapal AS
Sebagai bentuk pembalasan, pasukan Iran meluncurkan serangan drone terhadap beberapa kapal Amerika Serikat pada hari sebelumnya. Serangan ini dilaporkan oleh kantor berita Turki Anadolu Agency dan TRT World sebagai respons langsung terhadap tembakan dan penyitaan kapal kargo Iran oleh Washington.
Kantor berita Iran Tasnim News Agency melaporkan bahwa drone-drone Iran diluncurkan setelah pasukan AS menaiki kapal kontainer Touska di perairan Teluk Oman. Meskipun demikian, tidak ada klarifikasi lebih lanjut mengenai apakah target serangan tersebut merupakan kapal militer atau kapal komersial milik AS.
Saling Tuduh Pelanggaran Gencatan Senjata
Kedua pihak saling menuduh telah melanggar perjanjian gencatan senjata yang dimediasi Pakistan dan berlaku sejak 7 April lalu. Trump menuduh Iran melakukan pelanggaran dengan tindakannya di jalur perairan vital, sementara Teheran membalas dengan menyebut serangan AS sebagai "pelanggaran kepercayaan".
Juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaghari, dengan tegas mengkritik tindakan AS. "Amerika Serikat yang agresif, dengan melanggar gencatan senjata dan terlibat dalam pembajakan maritim, menyerang salah satu kapal Iran setelah menonaktifkan sistem navigasinya," kecamnya.
Zolfaghari menambahkan bahwa pasukan AS menaiki kapal kargo tersebut setelah mengerahkan "sejumlah marinir teroris" ke dalamnya. Dia juga memperingatkan bahwa pasukan militer Iran akan segera merespons dan membalas tindakan yang disebutnya sebagai pembajakan bersenjata oleh militer AS.
Latar Belakang Kapal Touska dan Sanksi AS
Kapal kontainer Touska ternyata telah berada dalam radar sanksi Departemen Keuangan AS karena riwayat aktivitas ilegal sebelumnya. Kapal ini terdaftar di situs web Kantor Pengawasan Aset Asing sebagai kontainer berbendera Iran yang berada di bawah sanksi Amerika Serikat.
Data pelacakan kapal menunjukkan bahwa Touska berangkat dari Port Klang di Malaysia pada 12 April lalu, sebelum akhirnya dicegat oleh Angkatan Laut AS di perairan Teluk Oman.
Dinamika Blokade Selat Hormuz
Insiden ini terjadi dalam konteks dinamika blokade Selat Hormuz yang semakin rumit. Iran sempat membuka kembali selat tersebut pada hari Jumat sebagai pengakuan atas gencatan senjata Israel-Hezbollah di Lebanon, tetapi menutupnya kembali pada hari berikutnya sebagai tanggapan atas blokade AS yang terus berlanjut terhadap kapal-kapal yang berlayar ke dan dari pelabuhan Iran.
Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, komando pusat militer Iran, melalui Fars News Agency menuduh pasukan AS telah menargetkan kapal kontainer Touska, menonaktifkan sistem navigasinya, dan menaikinya setelah apa yang digambarkan sebagai pelanggaran gencatan senjata.
Eskalasi konflik laut antara AS dan Iran ini mengancam tidak hanya stabilitas kawasan Teluk Oman dan Laut Arab, tetapi juga mengganggu jalur perdagangan maritim global yang melewati selat-selat vital tersebut. Kedua negara tampaknya belum menunjukkan tanda-tanda untuk meredakan ketegangan, dengan peringatan balasan dari Iran yang berpotensi memicu siklus konflik yang lebih luas.



