Arab Saudi Emosi dan Siap Balas Iran Usai Serangan Drone ke Riyadh
Arab Saudi Emosi, Siap Balas Iran Usai Serangan Drone

Arab Saudi Emosi dan Siap Balas Iran Usai Serangan Drone ke Riyadh

Arab Saudi dilaporkan dalam kondisi emosi tinggi setelah Iran meluncurkan serangkaian serangan ke sejumlah fasilitas terkait Amerika Serikat di wilayah kerajaan tersebut. Pemerintah Saudi kini bersiap untuk membalas Iran, menandai eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah yang sudah memanas.

Latar Belakang Ketegangan Saudi-Iran

Dirangkum dari berbagai sumber, pada Januari lalu, Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman telah menelepon Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Dalam percakapan itu, MBS menegaskan bahwa Saudi tidak akan mengizinkan serangan ke Iran dilakukan dari wilayahnya. Namun, situasi berubah drastis ketika pada Sabtu, 28 Februari 2026, AS dan Israel meluncurkan serangan ke Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Iran pun merespons dengan meluncurkan serangan balasan ke pangkalan-pangkalan AS di negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi. Ledakan terdengar di Riyadh pada Sabtu dan Minggu, 1 Maret, memicu kecaman keras dari Kerajaan Arab Saudi. Saudi menyatakan bahwa serangan-serangan ini telah berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udaranya.

Serangan Iran Terus Berlanjut Meski Diprotes

Meski mendapat protes dari Saudi, Iran tetap melanjutkan serangan balasannya. Pada Selasa, 3 Maret 2026, serangan drone Iran menghantam Kedutaan Besar Amerika Serikat di Riyadh, menyebabkan kebakaran terbatas dan kerusakan material kecil. Serangan itu juga mengenai markas CIA di ibu kota Saudi tersebut. Untungnya, tidak ada laporan korban jiwa dalam insiden ini.

Kementerian Luar Negeri Arab Saudi dalam pernyataannya mengecam serangan terhadap kedutaan besar itu sebagai pelanggaran terhadap Konvensi Jenewa 1949 dan Konvensi Wina 1961 tentang Hubungan Diplomatik. Mereka memperingatkan bahwa perilaku Iran yang berulang ini dapat mendorong kawasan menuju eskalasi lebih lanjut.

Arab Saudi Tegaskan Hak untuk Membalas

Terbaru, Pemerintah Arab Saudi memperingatkan bahwa pihaknya memiliki hak penuh untuk merespons serangan-serangan Iran yang menghantam Riyadh dan wilayah-wilayah lainnya di negara tersebut. Saudi menyebut rentetan serangan Iran itu sebagai serangan terang-terangan dan pengecut.

Peringatan ini disampaikan dalam sesi rapat kabinet pada Selasa malam, yang dipimpin oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman via video conference. Seperti dilaporkan Saudi Press Agency, kerajaan menegaskan kembali haknya untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan guna melindungi keamanan, integritas wilayah, warga negara, dan kepentingan-kepentingan vitalnya.

Solidaritas Regional dan Pertahanan Saudi

Dalam rapat kabinet tersebut, otoritas Saudi juga menegaskan solidaritas penuh dengan negara-negara tetangga yang menjadi target serangan balasan Iran ke fasilitas AS. Hal ini menandakan front persatuan melawan ancaman regional yang semakin meningkat.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Saudi, Mayor Jenderal Turki al-Malki, mengumumkan bahwa pertahanan udara negara berhasil mencegat sejumlah ancaman, termasuk delapan drone yang menargetkan Riyadh dan Al-Kharj pada Selasa pagi. Meski demikian, kerusakan pada Kedutaan AS menunjukkan bahwa serangan tetap berdampak.

Dengan situasi ini, Arab Saudi tampaknya siap untuk mengambil langkah-langkah lebih lanjut, meningkatkan ketegangan di kawasan yang sudah rentan terhadap konflik. Para pengamat khawatir bahwa eskalasi ini dapat memicu respons yang lebih luas, mempengaruhi stabilitas regional dan hubungan internasional.