Arab Saudi Bantah Lobi Diam-Diam ke Trump untuk Serang Iran
Arab Saudi Bantah Lobi Diam-Diam ke Trump untuk Serang Iran

Arab Saudi Bantah Keras Laporan Lobi Diam-Diam ke Trump untuk Serang Iran

Otoritas Arab Saudi secara resmi membantah laporan media terkemuka Amerika Serikat yang menyebutkan bahwa Riyadh telah melakukan lobi secara diam-diam kepada Presiden Donald Trump untuk melancarkan serangan militer terhadap Iran. Bantahan ini disampaikan menanggapi artikel dari The Washington Post yang mengutip empat sumber anonim yang mengetahui masalah tersebut.

Pernyataan Resmi dari Kedutaan Besar Saudi di Washington

Melalui juru bicara Kedutaan Besar Arab Saudi di Washington, Fahad Nazer, pemerintah Saudi menegaskan bahwa mereka tidak pernah melobi Presiden Trump untuk mengadopsi kebijakan yang berbeda terkait Iran. "Kerajaan Arab Saudi telah konsisten dalam mendukung upaya diplomatik untuk mencapai kesepakatan yang kredibel dengan Iran," ujar Nazer dalam pernyataan yang disampaikan via media sosial X, seperti dilansir dari Al Arabiya.

Nazer menambahkan, "Tidak pernah dalam seluruh komunikasi kami dengan pemerintahan Trump, kami melobi Presiden untuk mengadopsi kebijakan yang berbeda." Pernyataan ini sekaligus menepis spekulasi bahwa Saudi mendorong konfrontasi militer di kawasan Timur Tengah.

Komitmen Saudi pada Perdamaian dan Stabilitas Kawasan

Arab Saudi, sebagai salah satu negara Teluk terkemuka, telah berulang kali menyatakan komitmennya untuk mencegah eskalasi konflik di Timur Tengah. Riyadh secara terbuka menegaskan bahwa mereka tidak akan menjadi bagian dari potensi perang apa pun yang melibatkan Iran.

Putra Mahkota Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MBS), yang juga merupakan penguasa de-facto Kerajaan Saudi, bahkan telah menyampaikan pesan langsung kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam percakapan telepon pada 26 Januari lalu. Dalam percakapan tersebut, MBS menegaskan bahwa Saudi tidak akan mengizinkan wilayah udaranya atau wilayahnya digunakan untuk serangan militer apa pun terhadap Iran.

Eskalasi Terkini dan Respons Negara-Negara Teluk

Namun, situasi di kawasan semakin memanas menyusul serangan besar-besaran yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari waktu setempat. Serangan ini menewaskan sejumlah pemimpin senior dan pejabat tinggi Iran, termasuk pemimpin tertinggi negara tersebut, Ayatollah Ali Khamenei, yang telah berkuasa selama 36 tahun terakhir.

Sebagai respons, Iran mulai melancarkan serangan terhadap negara-negara tetangganya yang diketahui menampung pasukan AS. Hal ini memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan.

Pada Minggu malam, 1 Maret, Amerika Serikat bersama dengan Arab Saudi, Bahrain, Yordania, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab (UEA) menandatangani pernyataan bersama yang isinya mengecam Iran karena menargetkan negara-negara mereka dan warga sipil di kawasan tersebut. Pernyataan ini menunjukkan solidaritas di antara negara-negara sekutu AS di Timur Tengah dalam menghadapi ancaman dari Iran.

Meskipun demikian, Arab Saudi tetap menekankan bahwa pendekatan diplomatis adalah jalan utama yang mereka dukung, dan bantahan terhadap laporan lobi diam-diam ke Trump semakin mempertegas posisi Riyadh yang berusaha menjaga stabilitas kawasan tanpa terlibat dalam konflik bersenjata.