Delapan Serangan Terpisah Guncang Pusat AS di Bandara Baghdad
Sebuah gelombang serangan militer terjadi semalaman di Irak, dengan delapan serangan terpisah menargetkan pusat diplomatik dan logistik Amerika Serikat yang berlokasi di Bandara Internasional Baghdad. Serangan-serangan ini dilakukan menggunakan kombinasi roket dan drone, berlangsung hingga menjelang subuh, menurut laporan dari pejabat keamanan setempat.
Detail Serangan dan Lokasi Sasaran
Pejabat keamanan senior Irak yang berbicara dengan syarat anonim kepada AFP mengonfirmasi bahwa delapan serangan terpisah telah dilancarkan terhadap fasilitas AS tersebut. "Beberapa roket mendarat di dekat pangkalan," tambah pejabat tersebut, menekankan intensitas serangan. Sumber polisi lainnya melaporkan penemuan peluncur roket di distrik Baghdad yang berdekatan dengan bandara, mengindikasikan persiapan serangan yang matang.
Pusat diplomatik dan logistik AS ini telah menjadi sasaran berulang sejak konflik di Timur Tengah memanas pada akhir Februari. Kompleks bandara internasional tersebut menjadi lokasi strategis yang rentan, dengan kelompok-kelompok bersenjata pro-Iran secara konsisten menargetkan kepentingan Amerika di wilayah tersebut.
Klaim Tanggung Jawab dan Konteks Konflik
Sebuah gerakan yang dikenal sebagai Perlawanan Islam di Irak mengklaim bertanggung jawab atas serangan ini pada Minggu pagi. Kelompok tersebut menyatakan telah melancarkan 21 serangan drone dan roket dalam 24 jam terakhir "terhadap pangkalan penjajah" di Irak dan Timur Tengah. Tuntutan utama kelompok ini adalah penarikan pasukan AS dari Irak, yang menjadi akar konflik berkepanjangan.
Meskipun serangan ini terjadi, Kedutaan Besar AS di Baghdad tidak menjadi sasaran untuk malam keempat berturut-turut. Ini terjadi setelah Kataib Hizbullah, kelompok bersenjata berpengaruh yang didukung Iran, berjanji pada Kamis untuk menghentikan serangan selama lima hari dengan syarat tertentu. Namun, serangan terhadap fasilitas logistik dan diplomatik di bandara menunjukkan bahwa ketegangan tetap tinggi.
Respons dan Keamanan Fasilitas AS
Menanggapi situasi ini, juru bicara Departemen Luar Negeri AS menegaskan bahwa misi diplomatik mereka "tetap terbuka meskipun sedang dalam perintah untuk meninggalkan Irak." Pernyataan ini disampaikan ketika ditanya tentang penarikan personel dari Kedutaan Besar di Baghdad dan konsulat di Kurdistan Irak.
"Tim kami di Irak terus meninjau semua tindakan yang diperlukan untuk meningkatkan keselamatan personel dan fasilitas pemerintah AS," tambah juru bicara tersebut. Pernyataan ini mencerminkan upaya berkelanjutan untuk mengamankan aset Amerika di tengah lingkungan keamanan yang semakin tidak stabil.
Dampak dan Implikasi Serangan
Serangan semalaman ini bukan hanya mengganggu operasi bandara, tetapi juga memperburuk ketegangan diplomatik dan keamanan di wilayah tersebut. Beberapa gelombang keberangkatan fasilitas AS dilaporkan terjadi pada Sabtu dari bandara, menunjukkan langkah-langkah darurat yang diambil.
Konflik ini memiliki akar yang dalam, dengan kelompok bersenjata pro-Iran secara terbuka mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap kepentingan AS di Irak dan sekitarnya. Sementara itu, serangan balasan juga menargetkan kelompok-kelompok ini, menciptakan siklus kekerasan yang sulit dihentikan. Situasi ini menggarisbawahi kompleksitas konflik Timur Tengah dan tantangan keamanan yang dihadapi oleh pasukan dan diplomat AS di Irak.



