Pendidikan Politik untuk Generasi Muda di Tengah Kekecewaan terhadap Demokrasi
Pendidikan Politik untuk Generasi Muda di Tengah Kekecewaan

Pusat Riset dan Advokasi Serikat Jesus (Praksis) mencatat bahwa 64 persen anak muda merasa kecewa dan 48 persen mengaku muak terhadap dinamika politik Indonesia pada 2025. Temuan tersebut disertai fakta bahwa 88 persen responden tidak pernah mengekspresikan opini politik mereka di media sosial. Angka-angka ini menjadi sinyal perlunya pendidikan demokrasi dan ruang dialog sehat bagi generasi muda agar mereka tetap mampu memahami isu publik, menyampaikan pendapat, dan berpartisipasi dalam kehidupan demokrasi.

Langkah Konkret di Dunia Pendidikan

Merespons kondisi tersebut, SMA Strada Bhakti Wiyata dan SMK Strada Budi Luhur membekali siswa dengan pendidikan politik dan literasi digital sebagai bagian dari pembentukan karakter. Kegiatan pendidikan politik digelar pada 4 Mei 2026 dengan melibatkan 100 siswa. Mereka mengikuti diskusi interaktif bersama Praksis dengan menghadirkan Andi Suryadi dari Praksis dan Iqbal dari Kompas.id sebagai narasumber.

Diskusi Interaktif yang Mendalam

Suasana diskusi berlangsung interaktif. Para siswa aktif mengajukan pertanyaan dan berdialog dengan narasumber mengenai berbagai isu yang dekat dengan kehidupan generasi muda. Sejumlah topik dibahas, mulai dari pentingnya partisipasi dalam demokrasi, peran media dalam membentuk opini publik, hingga tantangan mempertahankan sikap kritis di tengah derasnya arus informasi digital.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Melalui kegiatan itu, siswa diajak memahami bahwa politik tidak semata-mata berkaitan dengan pemilihan umum atau perebutan kekuasaan. Politik juga berkaitan dengan kehidupan sehari-hari sebagai warga negara, termasuk kemampuan menyampaikan pendapat, menghargai perbedaan pandangan, dan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang berdampak bagi masyarakat.

Mendorong Pemilih Cerdas

Para narasumber juga mengajak siswa menjadi pemilih yang cerdas ketika kelak menggunakan hak pilihnya. Siswa didorong mengenali rekam jejak calon pemimpin melalui sumber informasi yang kredibel, membandingkan gagasan dan program yang ditawarkan, serta tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi atau janji politik yang bersifat populis.

Kemampuan berpikir kritis dan literasi digital menjadi bagian penting dalam diskusi. Siswa diajak memahami pentingnya memverifikasi informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Selain itu, mereka didorong memanfaatkan media sosial sebagai ruang untuk berdialog secara sehat dan bertanggung jawab. Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Berbagai pertanyaan yang disampaikan menunjukkan ketertarikan siswa terhadap isu kebangsaan dan demokrasi.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga