Reuni Aktivis ADK SHOW: Doli Kurnia Serukan Terbuka pada Kritik
Doli Kurnia Serukan Terbuka pada Kritik di Reuni Aktivis

Ratusan aktivis, akademisi, dan politisi dari berbagai latar belakang berkumpul dalam Reuni Aktivis bertajuk ADK SHOW (Arena Demokrasi & Kritik) yang digelar di Auditorium RRI Jakarta pada Rabu, 29 Juli 2026. Acara ini digagas oleh politisi Partai Golkar, Ahmad Doli Kurnia Tandjung, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Badan Legislasi DPR RI. Kehadiran peserta dari koalisi pemerintah, oposisi, hingga kalangan independen mencerminkan semangat keterbukaan yang diusung dalam forum tersebut.

Peluncuran Empat Buku Baru

Dalam kesempatan itu, Doli meluncurkan empat buku terbaru, yaitu Perspektif, Kacamata Doli Kurnia (2), Quote of The Day, dan Kacamata versi Komik. Dengan tambahan ini, total buku yang telah ditulis Doli sejak 1999 mencapai 14 judul. Buku Perspektif bukanlah autobiografi, melainkan kumpulan pandangan atau perspektif tentang fenomena dan orang-orang yang hadir dalam perjalanan hidupnya. "Ini merupakan cara pandang, POV, atau perspektif saya tentang apa yang saya lihat dan rasakan sejak kecil hingga sekarang. Mungkin satu peristiwa bisa dilihat secara berbeda oleh masing-masing dari kita, dan itulah kekayaan perspektif," ujar Doli dalam keterangan tertulis. Ia menambahkan bahwa perbedaan cara pandang adalah hal yang biasa.

Sementara itu, buku Kacamata Doli Kurnia berisi kumpulan tulisannya selama setahun terakhir yang membahas isu-isu seperti Undang-Undang Pemilu, sistem politik, kekerasan terhadap anak, hingga konflik Palestina dan Iran. Doli menjelaskan bahwa sebagai anggota parlemen, ia tidak hanya mewakili satu bidang atau daerah pemilihan, melainkan seluruh kegelisahan rakyat. "Dan saya, sebagai anggota parlemen, pada dasarnya tidak hanya mewakili satu bidang atau satu dapil saja. Namun semua isu yang menjadi kegelisahan rakyat," jelasnya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Testimoni dari Tokoh Senior

Acara dibuka oleh komika Mamat Alkatiri sebagai host dan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan. Testimoni perdana disampaikan oleh legenda Golkar, Akbar Tandjung, yang hadir bersama istrinya Nina Tandjung. Akbar menekankan bahwa politik adalah panggilan jiwa, dan jabatan, popularitas, serta kehormatan bukan sekadar penghargaan, melainkan ujian bagi setiap pemimpin. "Kehormatan dan ketenaran juga merupakan bagian dari cobaan. Karena itu, selalu membumi dan ingat pada janji-janji yang menanti untuk diwujudkan," ujar Akbar. Ia juga menilai demokrasi harus tetap memberi ruang bagi kritik, namun memerlukan keteraturan agar menghasilkan kehidupan berbangsa yang lebih baik. "Hakikat demokrasi juga sebetulnya keteraturan. Kalau demokrasi tidak diatur, bisa kacau," katanya.

Tokoh senior lainnya, Suharso Monoarfa, mantan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, memberikan testimoni mengenai kerja samanya dengan Doli dalam menyusun Undang-Undang Ibu Kota Nusantara (UU IKN). Suharso mengingat kejelian Doli saat mengusulkan perlunya Peraturan Presiden untuk memastikan kapan pembangunan ibu kota dimulai. Guru Besar BRIN, Siti Zuhro, menilai Doli sebagai representasi kader Golkar dan HMI yang sangat diperhitungkan, namun ia menyampaikan catatan ringan bahwa Doli kurang memiliki sense of humor, yang disambut tawa hadirin.

Sesi Roasting dan Kritik Konstruktif

Acara juga dimeriahkan dengan sesi roasting yang melibatkan sejumlah aktivis, akademisi, dan praktisi, antara lain Bursah Zarnubi, Hendri Satrio, Akbar Faisal, Setiyardi Budiono, Mardani Ali Sera, Syukur Mandar, Adian Napitupulu, Syahganda Nainggolan, Titi Anggraini, Feri Amsari, Budiman Tanuredjo, Arifin Ashydad, dan Rocky Gerung. Momen yang paling menarik perhatian adalah saat Rocky Gerung menyatakan bahwa kesediaan seseorang untuk di-roasting menunjukkan keterbukaan terhadap kritik dan keberanian menerima pandangan berbeda. "Kalau ada seseorang yang mau di-roasting, itu artinya dia masih punya akal sehat dan keberanian untuk menerima kritik," ujar Rocky.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Jurnalis senior Budiman Tanuredjo mengapresiasi konsistensi Doli dalam menulis. "Kita membutuhkan politisi seperti Ahmad Doli Kurnia yang tidak hanya aktif di parlemen, tetapi juga produktif dalam menyampaikan gagasan melalui tulisan," katanya. Aktivis senior Fachry Ali menilai Doli dapat menjadi figur yang memberi pegangan di tengah dinamika politik yang penuh ketidakpastian. "Di tengah politik praktis yang terasa seperti teka-teki, publik membutuhkan tonggak yang kuat. Salah satunya adalah Ahmad Doli Kurnia Tandjung," ujar Fachry.

Doli: Saya Ingin Tetap Menjadi Aktivis

Dalam sambutannya, Doli berharap buku-buku tersebut dapat menjadi inspirasi bagi banyak orang. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pengisi acara, roaster, serta rekan-rekan aktivis yang memberikan testimoni dan masukan. "Terima kasih atas semuanya. Saya merasa bahwa saya akan tetap menjadi aktivis ke depan," ucap Doli. Ia menegaskan pentingnya menerima kritik dan saran. "Manusia harus bersedia menerima kritik dan saran. Artinya, saya ingin menjadi orang yang tidak antikritik dan selalu terbuka," sambungnya. Menurut Doli, ADK SHOW bukan sekadar ajang reuni, tetapi juga ruang refleksi pribadi. "Masukan-masukan ini sangat berharga bagi saya. Karena itu, saya berterima kasih kepada keluarga besar aktivis," jelasnya.

Acara ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional, termasuk Ketua Dewan Direktur Great Institute Syahganda Nainggolan, kritikus Rocky Gerung, Bupati Lahat Bursah Zarnubi, politisi PKS Mardani Ali Sera, anggota DPR RI dari Fraksi PDIP Adian Napitupulu, akademisi seperti Pembina Perludem Titi Anggraini dan pakar hukum tata negara Feri Amsari, serta jurnalis senior Budiman Tanuredjo dan mantan Ketua Forum Pemred Arifin Ashydad. Aktivis yang kini menjadi konten kreator dan YouTuber seperti Akbar Faizal dan Syukur Mandar juga hadir. Tokoh senior lainnya seperti Marzuki Darusman, Jimly Assidiqie, dan MS Kaban turut memeriahkan acara.