Demo Ricuh di Kaltim, Massa Kecewa Gubernur Rudy Mas'ud Tak Temui Mereka
Demo Ricuh di Kaltim, Massa Kecewa Gubernur Tak Temui

Demo Ricuh di Kaltim, Massa Kecewa Gubernur Rudy Mas'ud Tak Temui Mereka

Aksi demonstrasi di depan kantor Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas'ud, berakhir dengan kericuhan yang memanas. Suasana yang awalnya kondusif berubah menjadi ricuh menjelang waktu Maghrib, sekitar pukul 18.00 WITA, ketika batas waktu penyampaian aspirasi telah berakhir.

Kekecewaan Massa Memuncak

Massa yang terdiri dari gabungan mahasiswa dan elemen masyarakat sipil meluapkan kemarahan mereka karena Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud maupun Wakil Gubernur Seno Aji tidak kunjung keluar untuk menemui mereka. Kekecewaan ini memicu aksi anarkis, di mana para demonstran melemparkan batu, botol minuman, tumpukan sampah, dan bebatuan ke arah gedung Kantor Gubernur Kaltim. Selain itu, mereka juga membakar ban bekas sebagai bentuk protes yang lebih keras.

Respons Aparat Kepolisian

Untuk mencegah aksi meluas, aparat kepolisian mengambil langkah tegas dengan membubarkan paksa para pendemo. Sebanyak 1.700 personel gabungan dikerahkan untuk memukul mundur massa dengan menembakkan meriam air atau water cannon ke arah demonstran. Kepala Polresta Samarinda, Komisaris Besar Polisi Hendri Umar, menjelaskan bahwa pihaknya telah mengingatkan peserta aksi untuk tidak melakukan tindakan anarkis di luar batas, sehingga petugas terpaksa mengambil langkah penguraian secara tegas.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Intervensi Anggota DPRD

Sebelum kericuhan terjadi, situasi sempat kondusif ketika sejumlah anggota DPRD Kaltim menemui para pendemo. Aksi unjuk rasa ini diinisiasi untuk mendesak DPRD Kaltim agar segera menggunakan hak angket serta interpelasi terhadap Gubernur Kaltim. Koordinator Aliansi Perjuangan Masyarakat Kaltim, Irma Suryani, menyatakan bahwa mereka menuntut evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan belanja daerah yang dinilai tidak peka terhadap kesusahan rakyat saat ini.

Irma Suryani mempertanyakan urgensi penggunaan anggaran daerah senilai Rp25 miliar untuk renovasi rumah jabatan gubernur, yang mencakup pengadaan fasilitas hiburan seperti meja biliar dan sejumlah barang mewah lainnya. Tuntutan ini menjadi salah satu poin utama dalam aksi demonstrasi yang berakhir ricuh tersebut.

Dampak dan Implikasi

Kericuhan ini menyoroti ketegangan antara pemerintah daerah dan masyarakat, terutama dalam hal responsivitas terhadap aspirasi publik. Aksi demo yang awalnya damai berubah menjadi ricuh karena ketidakpuasan massa terhadap ketidakhadiran pemimpin daerah. Insiden ini juga menggarisbawahi pentingnya dialog terbuka antara pemerintah dan warga untuk mencegah eskalasi konflik di masa depan.

Dengan adanya intervensi dari anggota DPRD, diharapkan tuntutan masyarakat dapat dibawa ke dalam rapat pimpinan untuk ditindaklanjuti secara serius. Namun, kericuhan yang terjadi telah meninggalkan bekas dalam hubungan antara pemerintah Kaltim dan elemen masyarakat yang merasa diabaikan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga