Waka BGN Sentil Mitra SPPG: Dapat Rp 6 Juta Sehari Tapi Hanya Suruh Lihat Dapur, Keterlaluan!
Waka BGN Sentil Mitra SPPG: Dapat Rp 6 Juta Sehari Tapi Cuma Suruh Lihat Dapur

Waka BGN Sentil Mitra SPPG: Dapat Rp 6 Juta Sehari Tapi Hanya Suruh Lihat Dapur, Keterlaluan!

Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S Deyang, secara tegas menyoroti tanggung jawab mitra Satuan Pelaksana Pelayanan Gizi (SPPG) dalam operasional dapur Makanan Bergizi Gratis (MBG). Ia menekankan bahwa mitra tidak boleh lepas tangan dan hanya mengejar keuntungan besar tanpa ikut serta dalam pengawasan sehari-hari.

"Anda di rumah, cuma nyuruh pembantu atau siapa untuk melihat dapur, terus (anda) kongko-kongko dapat 6 juta sehari, itu keterlaluan," ujar Nanik dalam sebuah pertemuan di Pacitan, seperti dilaporkan Liputan6.com. Pernyataan ini menggambarkan kekecewaannya terhadap mitra yang dianggap tidak serius menjalankan peran pengawasan.

Kewajiban Mitra SPPG dalam Pengawasan Dapur MBG

Nanik menjelaskan bahwa mitra SPPG harus aktif memantau tata kelola dapur setiap hari, bukan sekadar menerima insentif yang mencapai Rp 6 juta per hari. Ia menegaskan bahwa dengan besarnya pendapatan tersebut, mitra wajib menyiapkan peralatan dapur yang berkualitas dan dalam kondisi baru. Selain itu, pembangunan dapur harus sesuai dengan Petunjuk Teknis (Juknis) BGN untuk memastikan kelayakan higiene dan sanitasi.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Mitra juga diharuskan merekrut relawan yang telah lulus tes kesehatan dan mendaftarkan mereka ke BPJS Tenaga Kerja. Nanik menambahkan, calon relawan dari kelompok difabel yang sehat tidak boleh ditolak, asalkan memenuhi persyaratan kesehatan yang ketat.

Larangan Intervensi dan Penyalahgunaan Anggaran

Meski diminta mengawasi, Nanik mengingatkan bahwa mitra tidak boleh mengintervensi penentuan menu yang telah disusun oleh ahli gizi. "Masak makanan sudah disusun ahli gizi terus (anda) mengambil alih. Ini yang terjadi viral, yang sekarang lagi rame. Ini intervensi," katanya. Ia mencurigai praktik semacam ini sering dilakukan untuk menekan biaya belanja agar keuntungan mitra bisa membengkak.

Lebih lanjut, Nanik memperingatkan bahwa suspend atau penutupan sementara dapur tidak hanya disebabkan insiden keamanan pangan, tetapi juga penyalahgunaan anggaran. "Yang kita suspend juga adalah kalau Bapak Ibu Mitra tidak benar dalam menggunakan anggaran sepuluh ribu. Kita akan audit. Nah, kalau nggak bener kita suspend," tegasnya.

Investigasi dan Tindakan Tegas terhadap Mitra Nakal

Berdasarkan investigasi timnya, Nanik mengungkapkan banyak ditemukan permainan anggaran belanja bahan baku yang melibatkan mitra dan oknum Kepala SPPG. Kolusi ini berakibat pada kualitas makanan yang buruk dan tidak memenuhi standar gizi. Meski mitra berhak berbelanja karena Kepala SPPG sebagai ASN dilarang terlibat transaksi jual-beli, semua pembelian harus diketahui oleh Kepala SPPG yang juga wajib memahami harga pasar.

Nanik menyatakan bahwa ia masih bisa memaklumi jika mitra mencari untung kecil, tetapi tidak toleran terhadap praktik curang seperti merekayasa menu dengan bahan berkualitas rendah. "Begitu saya tahu dan menemukan mitra intervensi dalam penentuan menu dan belanja bahan baku kualitas nomor dua, saya akan langsung suspend satu minggu," ancamnya. Dengan demikian, BGN berkomitmen menjaga integritas program MBG demi kualitas gizi yang optimal bagi penerima manfaat.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga