Sampah Menumpuk Sepekan di Pasar Kopro Jakbar, Pedagang Resah Bau Busuk dan Sepi Pembeli
Sampah Sepekan di Pasar Kopro Jakbar, Pedagang Resah Bau Busuk

Sampah Menumpuk Sepekan di Pasar Kopro Jakbar, Pedagang Resah Bau Busuk dan Sepi Pembeli

Tumpukan sampah yang menggunung di kawasan Pasar Kopro, tepatnya di Tanjung Duren Selatan, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, kembali menjadi pemandangan yang meresahkan. Dalam beberapa hari terakhir, aroma menyengat tercium kuat, menyelimuti aktivitas warga dan pedagang yang menggantungkan hidup di sekitar pasar tersebut.

Kondisi Memprihatinkan di Lokasi

Di sela hiruk-pikuk aktivitas pasar, Yahya (38), seorang pedagang setempat, hanya bisa menggelengkan kepala melihat kondisi yang tak kunjung membaik. Ia mengungkapkan bahwa sampah sudah menumpuk lebih dari sepekan tanpa pengangkutan rutin. "Ini emang udah seminggu lebih, pokoknya sejak Lebaran. Pas sehari atau dua hari sebelum Lebaran itu sempat diangkut, tapi abis itu tak diangkut lagi, baru sekarang ini diangkut, setelah numpuk," tutur Yahya di lokasi, Selasa (31/3/2026), seperti dilansir dari Antara.

Bagi Yahya, persoalan ini bukan sekadar soal pemandangan yang tak sedap dipandang. Bau busuk yang menyengat justru menjadi masalah utama yang berdampak langsung pada usahanya. "Bau, bau banget. Sebenarnya udah biasa sama sampah di sini, memang di sini itu tempat sampah sementara, tapi karena kemarin berhari-hari sampahnya jadi membusuk, sehingga bau," jelas dia. Kondisi ini, lanjutnya, membuat sebagian pelanggan enggan mendekat. Ia khawatir, jika dibiarkan berlarut-larut, penumpukan sampah akan semakin menurunkan minat masyarakat untuk berbelanja di pasar tersebut.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Tumpukan Sampah Meluber ke Jalan

Di lapangan, tumpukan sampah tampak meluber hingga ke badan jalan. Limbah rumah tangga bercampur dengan kantong plastik, karung, bahkan kasur bekas, membentuk gunungan yang menghitam dan becek akibat genangan air serta cairan sisa pembusukan. Sejumlah gerobak yang turut dipenuhi sampah berjajar di sisi lokasi, mempertegas fungsi kawasan itu sebagai titik transit sebelum sampah diangkut. Namun, ketika pengangkutan terhenti, area tersebut berubah menjadi sumber persoalan baru.

Yahya berharap kondisi ini segera ditangani secara serius. Ia menyinggung bahwa warga dan pedagang selama ini tetap memenuhi kewajiban membayar iuran kebersihan setiap bulan, sehingga penumpukan seperti ini seharusnya tidak terjadi.

Upaya Penanganan oleh Pemerintah

Sementara itu, upaya penanganan mulai terlihat ketika petugas dari Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Barat menurunkan alat berat ke lokasi. Mesin tersebut dikerahkan untuk mengeruk tumpukan sampah dan memindahkannya ke dalam truk besar, perlahan mengurai gunungan yang sempat dibiarkan menumpuk berhari-hari.

Suku Dinas Lingkungan Hidup (Sudin LH) Jakarta Barat akhirnya mengangkut tumpukan sampah di sekitar Pasar Kopro, Tanjung Duren Selatan, Grogol Petamburan, pada Selasa setelah dikeluhkan warga. "Sudah, tadi sudah kita terjunkan petugas dengan satu unit alat berat pengeruk dan tiga truk kapasitas besar," kata Kasudin LH Jakbar, Achmad Hariadi.

Penyebab Keterlambatan Pengangkutan

Hariadi memastikan penanganan rampung pada sore hari dan menegaskan bahwa sampah berada di luar area pasar. "Jadi, sampah itu bukan di area pasar tapi di luar pasar. Kalau di dalam pasar steril," katanya. Ia menjelaskan, keterlambatan pengangkutan terjadi karena pembatasan kuota pembuangan ke TPST Bantar Gebang usai insiden longsor pada 8 Maret 2026. "Jadi, memang tak bisa secara simultan diangkut semua. Memang beberapa titik sumber sampah (prioritas) yang diangkut ke sana (Bantar Gebang), karena masih dalam pembatasan kuota," katanya.

Menurutnya, pengangkutan tetap dilakukan sesuai jadwal, dengan prioritas pada jalan protokol. "Jadi, memang bukan tak diangkut, hanya memang ada jadwalnya," katanya. Kasatpel LH Grogol Petamburan, Udin Mahmudin, menyebut penumpukan terjadi pasca-Lebaran akibat pembatasan tersebut. "Masalah sampah di RW 5 Kelurahan Tanjung Duren Selatan, ini sampah numpuk pasca-Lebaran. Akhirnya hari ini kita menerjunkan armada tiga, satu shovel (alat berat) untuk pengangkutan hari ini. Insya Allah hari ini steril," kata Udin.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Ia menjelaskan, kuota pengangkutan sempat turun dari 38 menjadi 12 armada per hari, sehingga memicu penumpukan. Namun, kondisi kini mulai membaik. "Tapi hari ini sudah mulai naik, kuotanya kita sudah bisa angkut 24 armada ke Bantar Gebang, jadi pelan-pelan dibereskan dan pasti akan dibersihkan kembali," imbuhnya.