Mendagri: Hampir 100 Persen Pengungsi Bencana di Sumatera Tak Lagi di Tenda
Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian, memberikan kabar positif terkait pemulihan pascabencana di wilayah Sumatera. Dalam keterangannya di Senayan, Jakarta Selatan, pada Senin (23/3/2026), Tito menyatakan bahwa penanganan pengungsi telah mencapai kemajuan signifikan, dengan hampir seluruhnya tidak lagi bertempat tinggal di tenda.
Pengurangan Drastis Jumlah Pengungsi
Tito memaparkan bahwa dari total sekitar 2,1 juta jiwa pengungsi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada awal Desember 2025, saat ini hanya tersisa sekitar 173 jiwa atau 47 kepala keluarga (KK) yang masih memerlukan penanganan. "Dari 2 juta lebih pengungsi pada awal Desember, sekarang tersisa kurang lebih 173 jiwa. Ini sudah sangat jauh berkurang," ujar Tito, yang juga menjabat sebagai Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatera.
Dari 173 jiwa tersebut, semuanya berada di Provinsi Aceh, dengan rincian 77 jiwa di Kabupaten Bireun dan 96 jiwa di Kabupaten Aceh Tamiang. Pemerintah terus berupaya menangani mereka, salah satunya melalui pembangunan hunian sementara (huntara) oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Aceh Tamiang.
Tantangan Penanganan Bencana yang Tersebar
Tito menjelaskan bahwa tantangan dalam penanganan bencana kali ini berbeda dengan bencana sebelumnya, seperti tsunami yang terpusat di daerah pesisir. "Kalau tsunami dulu itu kan satu hamparan daerah pantai. Sekarang ini tersebar, terutama di daerah-daerah yang dekat dengan sungai. Ini membuat persoalan logistik tersendiri untuk membuat huntara," jelasnya.
Kondisi geografis yang sulit dijangkau, terutama di wilayah pedalaman dan daerah aliran sungai, menjadi kendala utama. Meski beberapa wilayah perkotaan seperti ibu kota Aceh Timur telah dinyatakan bersih dari pengungsi, daerah pedalaman masih memerlukan perhatian khusus.
Pemulihan Pascabencana Masih Berjalan
Tito menegaskan bahwa capaian mendekati 100 persen pengungsi tidak lagi di tenda bersifat spesifik dan tidak berarti seluruh aspek pemulihan telah selesai. "Yang saya sampaikan itu spesifik, pengungsi mendekati 100 persen tidak lagi di tenda. Bukan berarti semua aspek sudah pulih," ujarnya.
Pemerintah masih terus berupaya dalam pemulihan pascabencana, termasuk perbaikan fasilitas kesehatan, pendidikan, infrastruktur jalan, dan normalisasi sungai. Tito mengakui bahwa proses ini membutuhkan waktu lebih panjang. "Seperti yang saya sampaikan, faskes, pendidikan, masih ada yang perlu kita atensi, masih belum (pulih sepenuhnya). Ada juga sungai belum, ada beberapa jalan desa, jalan kabupaten yang cukup banyak jumlahnya juga belum," ungkapnya.
Secara keseluruhan, Tito menyebutkan bahwa pemulihan pascabencana di tiga provinsi tersebut telah mencapai 73 persen, berdasarkan jumlah kabupaten/kota yang telah normal. Dari 52 kabupaten/kota, sebanyak 38 di antaranya telah pulih, menandakan kemajuan yang terus berlanjut dalam upaya rehabilitasi wilayah terdampak bencana.



