Kopi di Ruang Guru dan Harapan yang Tertunda
Kopi di Ruang Guru dan Harapan yang Tertunda

Di banyak ruang guru sekolah kita, kopi sering kali bukan sekadar minuman. Ia adalah teman untuk menahan lelah, menemani tumpukan administrasi, sekaligus pelarian kecil di tengah hidup yang makin sesak. Namun, belakangan ini, obrolan di ruang guru terasa berbeda. Tidak lagi sekadar soal murid yang lucu atau tugas sekolah yang menumpuk, melainkan soal satu hal yang terus menghantui: kapan hidup guru benar-benar dianggap penting oleh negara?

Klarifikasi pemerintah terkait pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai kenaikan tunjangan guru mungkin sudah selesai di level birokrasi. Namun di tingkat bawah, di ruang-ruang kelas sederhana, persoalannya tidak sesederhana itu. Sebab, ketika kabar itu muncul, banyak guru telanjur berharap.

Harapan itu kini menggantung. Di ruang guru, secangkir kopi tetap menemani, namun rasa pahitnya kini bercampur dengan kecewa yang tak kunjung reda. Guru terus bertanya: kapan negara benar-benar hadir untuk mereka?

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga
Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram