Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar, yang akrab disapa Cak Imin, menegaskan bahwa generasi muda memiliki peran strategis dalam mewujudkan kemandirian pangan nasional. Menurutnya, inovasi anak muda menjadi kunci menghadapi berbagai tantangan global di sektor pangan.
Hal itu disampaikan Cak Imin saat membuka Seminar Nasional Desa Berdaya: Peran Milenial dalam Mendukung Kemandirian Pangan Lokal Berkelanjutan di Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, Jawa Tengah, Kamis (2/7/2026).
Inovasi Anak Muda Lebih Penting dari Luas Lahan
"Saya ingin menegaskan, masa depan ketahanan pangan kita tidak ditentukan oleh luas sawah semata, tetapi oleh seberapa banyak anak muda yang mau kembali membangun desa, membangun pertanian," ujar Cak Imin.
Ia mendorong pemuda, termasuk mahasiswa melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN), untuk berkontribusi mengembangkan pangan lokal sekaligus menghadirkan inovasi di sektor pertanian.
Pemerintah Buka Ruang Inovasi
Menurut Cak Imin, pemerintah telah membuka ruang melalui berbagai kebijakan, mulai dari hilirisasi pangan, digitalisasi distribusi pupuk, hingga penguatan riset. Karena itu, ia berharap generasi muda dapat mengisi peluang tersebut dengan berbagai terobosan.
"Pemerintahan Presiden Prabowo telah membuka jalan lewat hilirisasi pangan, digitalisasi distribusi pupuk, dan penguatan riset. Tugas kita selanjutnya adalah mengisinya dengan anak-anak muda yang berani berinovasi agar kebijakan ketahanan pangan dapat terimplementasi dengan baik," kata Cak Imin.
Jumlah Petani Muda Masih Rendah
Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal, dan Daerah Tertentu Kemenko Pemberdayaan Masyarakat Abdul Haris mengatakan jumlah petani milenial berusia 19-39 tahun baru mencapai sekitar 6,18 juta orang atau 21,93 persen dari total petani nasional. Di sisi lain, mayoritas petani Indonesia saat ini berusia di atas 55 tahun.
Karena itu, Haris menilai perguruan tinggi memiliki peran penting mencetak petani muda melalui pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Ia juga menyoroti komitmen perguruan tinggi dalam Rakornas Surabaya untuk memberdayakan 40.000 desa. Menurutnya, program tersebut perlu diiringi penguatan sektor pangan di desa-desa binaan kampus.
"Ke depan, kami mendorong penerapan model kampus tani dan pusat inovasi desa untuk mengembangkan sektor unggulan desa, mengingat masih terdapat kabupaten dan desa tertinggal yang menjadi prioritas pemberdayaan masyarakat," ujar Haris.



