Prabowo Resmikan Museum Marsinah di Nganjuk, Dedikasi untuk Perjuangan Buruh
Prabowo Resmikan Museum Marsinah di Nganjuk

Presiden Prabowo Subianto secara resmi membuka Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, pada Sabtu, 16 Mei 2026. Museum ini didedikasikan untuk mengenang perjuangan Marsinah, seorang aktivis buruh perempuan yang dikenal gigih membela hak-hak pekerja.

Peresmian Museum

Dalam sambutannya, Prabowo menyampaikan bahwa museum ini merupakan bentuk penghormatan atas jasa Marsinah. "Dengan mengucap Bismillahirahmanirrahim, pada pagi hari ini Sabtu, 16 Mei 2026, saya Prabowo Subianto, Presiden RI, meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Kabupaten Nganjuk," ujarnya. Acara tersebut dihadiri oleh kakak dan adik Marsinah serta Ketua Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea. Prabowo juga menandatangani prasasti sebagai tanda resmi dibukanya museum.

Penghargaan Pahlawan Nasional

Sebelumnya, pada 11 November 2025, Prabowo telah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Marsinah. Marsinah lahir pada 10 April 1969 di Nglundo, Nganjuk, dari pasangan Astin dan Sumini. Ia memiliki kakak bernama Marsini dan adik bernama Wijati. Setelah lulus SLTA pada 1989, Marsinah merantau ke Surabaya dan tinggal bersama Marsini. Ia bekerja di pabrik plastik SKW di Kawasan Industri Rungkut, namun gajinya tidak mencukupi sehingga ia berjualan nasi bungkus. Pada 1990, ia pindah ke PT Catur Putra Surya (PT CPS) di Desa Siring, Porong, Sidoarjo.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Aktivisme Marsinah

Di PT CPS, Marsinah aktif memperjuangkan nasib rekan-rekannya dan bergabung dengan Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI). Pada 1993, pemerintah mengeluarkan instruksi Gubernur Jawa Timur No. 50/Th. 1992 yang menganjurkan kenaikan gaji 20 persen, namun PT CPS tidak segera memenuhinya. Hal ini memicu aksi unjuk rasa buruh. Pada 2 Mei 1993, Marsinah menghadiri rapat perencanaan unjuk rasa di Tanggulangin, Sidoarjo. Keesokan harinya, para buruh melakukan mogok kerja, namun diredam oleh Koramil setempat. Pada 8 Mei 1993, terjadi mogok total dengan 12 tuntutan kepada PT CPS. Marsinah menjadi salah satu dari 15 perwakilan buruh yang berunding dengan perusahaan.

Penghilangan dan Kematian

Pada 5 Mei 1993, 13 buruh dianggap menghasut dan digiring ke Kodim Sidoarjo, lalu dipaksa mengundurkan diri. Marsinah mendatangi Kodim untuk menanyakan nasib mereka. Malam harinya, sekitar pukul 22.00, ia dilaporkan hilang. Jasad Marsinah ditemukan tewas mengenaskan di Nganjuk pada 9 Mei 1993. Autopsi menunjukkan ia meninggal pada 8 Mei 1993 akibat penganiayaan berat dan pemerkosaan. Kematiannya memicu kecaman publik dan tuntutan pengusutan tuntas, namun pelaku hingga kini belum terungkap.

Warisan Marsinah

Marsinah dikenang sebagai pahlawan buruh. Ia menerima penghargaan Yap Thiam Hien, dan kisahnya diangkat dalam berbagai karya sastra dan seni. Keberaniannya terus menginspirasi gerakan buruh hingga saat ini.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga