Menteri Lingkungan Hidup dan Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Jumhur Hidayat, mengungkapkan bahwa limbah cair pabrik kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) menjadi salah satu sumber emisi gas metana terbesar di Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan dalam peluncuran proyek ASEAN-Korea Cooperation for Methane Mitigation (AKCMM) di Hotel Le Meridien, Jakarta Pusat, pada Kamis, 21 Mei 2026.
Produksi Limbah Cair Sawit Nasional
Jumhur menjelaskan bahwa produksi limbah cair sawit nasional mencapai hampir 28,7 juta ton per tahun, yang berasal dari sekitar 14 juta hektare perkebunan kelapa sawit di Indonesia. “Setiap tahun, produksi nasional Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit (POME) mencapai hampir 28,7 juta ton, yang dihasilkan dari sekitar 14 juta hektar perkebunan kelapa sawit,” ujarnya.
Proses Dekomposisi Anaerobik
Menurut Jumhur, limbah cair tersebut selama ini mengalami pembusukan tanpa oksigen atau dekomposisi anaerobik di kolam terbuka. Kondisi ini memicu pelepasan gas metana ke atmosfer dalam jumlah besar. “Volume limbah cair yang sangat besar ini, yang dihasilkan oleh ratusan pabrik di seluruh negeri, mengalami dekomposisi anaerobik di kolam terbuka, yang melepaskan sejumlah besar metana ke atmosfer,” jelas Jumhur.
Dampak Metana terhadap Pemanasan Global
Gas metana memiliki dampak pemanasan global 28 hingga 36 kali lebih besar dibandingkan karbon dioksida (CO2). “Dekomposisi anaerobik di kolam terbuka menghasilkan metana dengan potensi pemanasan global 28 hingga 36 kali lebih kuat daripada CO2,” katanya. Berdasarkan data pemerintah, emisi gas rumah kaca dari POME diperkirakan mencapai sekitar 241 ribu ton metana per tahun, setara dengan sekitar 6,7 juta ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e).
Upaya Pengendalian Emisi POME
Pemerintah mulai mendorong pengendalian emisi POME sebagai bagian dari target penurunan emisi dalam Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia serta implementasi nilai ekonomi karbon. “Menyadari tantangan ini, Pemerintah Indonesia telah merencanakan pengendalian emisi POME sebagai komponen kunci dalam mencapai NDC kami dan dalam mengimplementasikan kerangka nilai ekonomi karbon,” ujar Jumhur.
Teknologi Penangkapan Metana dan Biogas
Pemerintah juga mendorong adopsi teknologi penangkapan gas metana dan pemanfaatan biogas di industri sawit. “Kami mendorong adopsi teknologi penangkapan metana dan pemanfaatan biogas sebagai bagian dari transisi kami yang lebih luas menuju ekonomi rendah karbon,” katanya. Selain itu, pemerintah memperketat standar lingkungan dengan melarang praktik land application atau pembuangan POME langsung ke lahan karena berisiko terhadap tanah, air tanah, serta memicu pelepasan metana yang tidak terkendali. “Kebijakan ini mengalihkan pabrik kelapa sawit untuk mengadopsi sistem pengolahan rendah emisi seperti laguna tertutup (covered lagoon), reaktor anaerobik, dan solusi biogas-ke-energi,” kata Jumhur.
Potensi Energi Terbarukan dari POME
Jumhur menilai POME tidak hanya menjadi sumber emisi besar, tetapi juga memiliki potensi energi terbarukan yang besar jika dimanfaatkan secara optimal. Potensi biogas dari limbah sawit Indonesia diperkirakan dapat mencapai 258 miliar meter kubik. Dengan demikian, pengelolaan limbah sawit yang tepat dapat memberikan manfaat ganda, yaitu mengurangi emisi metana sekaligus menghasilkan energi bersih.



