Video viral dari peristiwa KM Nurul Salsa yang karam di perairan Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan (Sulsel) memperlihatkan seorang kakek yang dengan ikhlas memberikan pelampung terakhirnya kepada cucu tercinta. Pria lanjut usia itu adalah Umar (80), dan cucunya bernama Naurah (13). Dalam rekaman yang beredar, Umar dan Naurah duduk berdampingan sebelum KM Nurul Salsa tenggelam di sekitar Pulau Polassi. Naurah terlihat mengenakan pelampung oranye, sementara Umar hanya mengenakan jaket cokelat tanpa pelampung, sambil tersenyum.
Kesaksian Korban Selamat
Keputusan heroik Umar untuk memberikan pelampung kepada Naurah dikonfirmasi oleh saksi mata yang selamat dari tragedi tersebut, Munawir (51). Munawir, yang merupakan kerabat dari Umar dan Naurah, menceritakan kesaksiannya kepada wartawan di Makassar. "Naurah ini sama dengan kakek neneknya. Saat kapal tenggelam, neneknya berada di kelompok kapten kapal. Kalau kakeknya sama Naurah," kata Munawir pada Rabu (22/7).
Menurut Munawir, KM Nurul Salsa berlayar dari pelabuhan di Pulau Jampea menuju Pelabuhan Benteng di Selayar. Perjalanan yang awalnya normal berubah menjadi tragedi setelah kapal mengalami gangguan mesin. Para penumpang awalnya mengira kerusakan bisa diatasi, namun ombak semakin tinggi dan menghantam kapal hingga oleng dan tenggelam. Dalam situasi panik, Umar memilih menyerahkan pelampung kepada Naurah agar cucunya dapat bertahan.
Detik-Detik Tenggelam
Saat kapal karam, Umar yang tidak mengenakan pelampung ikut tenggelam bersama KM Nurul Salsa. Naurah yang mengapung di laut menangis sambil memanggil kakeknya. "Kakek Naurah pas kapal tenggelam dia juga ikut tenggelam. Naurah cari kakeknya, karena kakeknya itu ketika kapal tenggelam dia juga ikut turun (tenggelam). Naurah ini jauh dari gabus [yang digunakan survivor untuk mengapung]," ungkap Munawir. Mendengar tangisan Naurah, Munawir segera berenang dengan sisa tenaga dan mengangkat Naurah ke atas gabus yang digunakan sejumlah penumpang untuk bertahan hidup. "Saya lihat Naurah, langsung saya ambil ini anak, kasih naik ke atas gabus," katanya.
Namun, gabus tersebut diterjang ombak besar, menyebabkan para korban terbalik dan terpencar. Dalam kondisi gelap, Munawir kehilangan jejak Naurah. "Saya tidak tahu ke mana lagi Naurah dan penumpang lainnya, karena sudah tidak kelihatan karena gelap," ujarnya. Munawir akhirnya diselamatkan kapal nelayan bersama beberapa korban, namun nasib Naurah belum diketahui hingga saat ini. Munawir mengaku masih terus teringat suara tangis Naurah yang memanggil nama kakeknya.
Operasi Pencarian dan Data Korban
KM Nurul Salsa karam di perairan sebelah barat Pulau Polassi, Kabupaten Selayar, Sulsel, pada Rabu (15/6) siang. Kapal itu mengalami mesin mati sekitar pukul 10.00 Wita, terombang-ambing hingga akhirnya terbalik dan karam pada Rabu malam. Manifes kapal semula mencatat 46 orang, namun verifikasi tim gabungan Basarnas Makassar menemukan jumlah penumpang sekitar 78 orang, termasuk 8 Anak Buah Kapal (ABK). Kapal juga membawa muatan sembako sekitar 17 ton dan 4 motor.
Setelah sepekan operasi pencarian, Basarnas memperpanjang operasi SAR selama tiga hari ke depan. Keputusan ini diambil pada hari ketujuh melalui koordinasi dengan pemerintah daerah dan Forkopimda. "Hari ini adalah hari ketujuh sesuai SOP operasi pencarian. Kami sepakat menambah pelaksanaan operasi selama tiga hari ke depan," kata Direktur Operasi Basarnas, Laksamana TNI Yudhi Bramantyo, pada Selasa (21/7).
Laksamana Yudhi Bramantyo menyatakan perpanjangan operasi dilakukan karena masih ada 16 penumpang yang belum ditemukan. "Sehingga total penemuan dari 78 korban, selamat 59. Kita temukan meninggal tiga korban. Dalam pencarian menjadi 16 korban," ungkapnya. Pada hari ketujuh, tim SAR gabungan kembali menemukan dua korban dalam kondisi meninggal dunia. Hingga hari ketujuh, dari total 78 orang, 59 ditemukan selamat, 3 meninggal, dan 16 masih dalam pencarian. "Kita berharap tambahan waktu operasi dapat memaksimalkan upaya pencarian terhadap seluruh korban yang belum ditemukan," tutupnya.



