Hoaks Menteri HAM Natalius Pigai Soal Penculikan Aktivis oleh Israel
Hoaks Menteri HAM Natalius Pigai Soal Penculikan Aktivis

KOMPAS.com - Sebanyak sembilan aktivis dan jurnalis asal Indonesia dilaporkan diculik oleh tentara Israel saat menjalankan misi kemanusiaan di perairan Siprus. Insiden ini memicu gelombang kecaman di media sosial, namun beredar pula narasi yang mencatut Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai.

Narasi yang Beredar

Di platform media sosial, tersiar klaim bahwa Menteri Pigai menyebut aksi penculikan tersebut sebagai risiko yang harus diterima ketika memasuki zona berbahaya. Narasi ini dengan cepat menyebar dan menimbulkan kontroversi di kalangan warganet.

Penelusuran Fakta

Tim Cek Fakta Kompas.com melakukan penelusuran mendalam terhadap pernyataan yang dikaitkan dengan Menteri Pigai. Hasilnya, tidak ditemukan satu pun pernyataan resmi atau catatan media yang mendukung klaim tersebut. Pihak Kementerian HAM juga membantah adanya pernyataan semacam itu.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Kepala Biro Humas Kementerian HAM, dalam keterangannya, menegaskan bahwa Menteri Pigai tidak pernah mengeluarkan pernyataan yang meremehkan insiden penculikan. Sebaliknya, pemerintah Indonesia telah mengambil langkah diplomatik untuk memastikan keselamatan para korban.

Klarifikasi Pemerintah

Kementerian Luar Negeri RI juga telah memberikan pernyataan resmi terkait insiden ini. Mereka menyatakan bahwa pemerintah Indonesia sedang berkoordinasi dengan otoritas Siprus dan Israel untuk membebaskan sembilan warga negara Indonesia yang diculik. Pemerintah mengecam keras tindakan penculikan tersebut.

Menteri Pigai sendiri, melalui akun media sosialnya, mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi. Ia menekankan pentingnya literasi digital dan memeriksa kebenaran berita sebelum menyebarkannya.

Dampak Hoaks

Penyebaran hoaks semacam ini tidak hanya merugikan reputasi pejabat negara, tetapi juga mengalihkan perhatian dari upaya penyelamatan korban. Masyarakat diharapkan lebih kritis terhadap informasi yang beredar, terutama yang menyangkut isu sensitif seperti keamanan dan HAM.

Tim Cek Fakta Kompas.com terus memantau perkembangan kasus ini dan akan memberikan pembaruan jika ada informasi resmi lebih lanjut. Sementara itu, kami mengajak pembaca untuk selalu merujuk pada sumber terpercaya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga