Golkar Dukung Nanik S Deyang Pimpin BGN, Minta Tak Ada Kebocoran Program MBG
Golkar Dukung Nanik Pimpin BGN, Minta Tak Ada Kebocoran MBG

Wakil Ketua Komisi IX DPR Fraksi Golkar, Yahya Zaini, menyambut baik penunjukan Nanik S Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN). Menurut Yahya, pergantian kepemimpinan di BGN menjadi momentum untuk membenahi tata kelola program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Pujian untuk Nanik

“Saya memandang pergantian Kepala BGN oleh Nanik S Deyang sebagai figur yang sangat tepat untuk menakhodai BGN,” kata Yahya Zaini kepada wartawan, Kamis (4/6/2026). Menurutnya, Nanik memiliki pengalaman blusukan ke berbagai daerah untuk memantau langsung program MBG. Yahya menilai Nanik telah mengetahui seluk-beluk program MBG secara menyeluruh.

“Pengalamannya yang intensif dalam melakukan pengawasan langsung ke berbagai daerah membuatnya sangat memahami seluk-beluk, dinamika, serta hambatan riil yang dihadapi program MBG di tingkat tapak selama ini,” lanjutnya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Tiga Tantangan Mendesak

Di sisi lain, Yahya menilai Nanik mengemban tugas berat. Ia melihat tiga tantangan mendesak yang perlu segera dibenahi, dimulai dari perbaikan tata kelola MBG.

1. Perbaikan Tata Kelola Anggaran

“Yang pertama, perbaikan tata kelola anggaran dan operasional merupakan substansi mendasar yang perlu diperbaiki, yaitu transparansi dan akuntabilitas tata kelola keuangan serta manajemen distribusi,” jelas Yahya. Ia mengatakan perbaikan tata kelola di BGN diperlukan karena MBG menyerap anggaran negara yang sangat besar. Yahya menegaskan Nanik harus memastikan tidak ada kebocoran dalam program tersebut.

“Termasuk perlu juga ada pembenahan akurasi data penerima manfaat dan efisiensi rantai pasok (supply chain) dari pusat hingga ke daerah harus dipastikan bebas dari kebocoran,” lanjutnya.

2. Penegakan Disiplin dan Standardisasi

Faktor kedua yang perlu dibenahi adalah penegakan disiplin dan standardisasi ketat. Yahya menegaskan BGN harus memperketat implementasi standard operating procedure (SOP) di setiap unit penyedia makanan. “Belajar dari beberapa insiden keracunan makanan yang sempat terjadi di lapangan, penegakan disiplin higienitas dan kualitas bahan baku menjadi harga mati demi mencapai target zero accident. Pengawasan berkala tidak boleh kendor,” jelasnya.

3. Koordinasi Lintas Sektor

Selain itu, Yahya menilai BGN juga perlu memperkuat koordinasi lintas sektor dan pemerintah daerah. Sebab, ego sektoral kerap menjadi penghambat program MBG. “Faktor ini merupakan salah satu titik lemah yang kerap menghambat program skala nasional adalah ego sektoral,” ucapnya.

Yahya juga menyoroti pentingnya sinergitas dengan kementerian/lembaga terkait, seperti Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan, serta pemerintah daerah (pemda). “Sinergi ini sangat krusial, terutama dalam fungsi pengawasan terpadu di lapangan yang selama ini dinilai masih longgar,” tegasnya.

Harapan untuk MBG

Yahya berharap MBG dapat menjadi motor penggerak perbaikan gizi nasional yang aman, disiplin, dan bebas dari insiden yang merugikan masyarakat. “BGN diharapkan tidak hanya menjadi lembaga administratif, tetapi mampu bertransformasi menjadi motor penggerak perbaikan gizi nasional yang aman, disiplin, dan bebas dari insiden yang merugikan masyarakat,” imbuhnya.

Seperti diketahui, Presiden Prabowo Subianto mencopot Dadan Hindayana sebagai Kepala BGN serta Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya dari jabatan Wakil Kepala BGN. Prabowo telah menunjuk tiga orang pimpinan baru BGN: Nanik S Deyang sebagai Kepala BGN, serta Agustina Arum Sari dan Mayjen TNI Trenggono sebagai Wakil Kepala BGN.

Setelah pencopotan tersebut, Kejaksaan Agung (Kejagung) melakukan penggeledahan di Kantor BGN dan rumah ketiganya. Kini ketiganya telah ditetapkan sebagai tersangka korupsi tata kelola MBG.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga