Demo Mahasiswa Bandung di DPRD Jabar: Tuntut Hentikan Pemborosan Anggaran
Demo Mahasiswa Bandung Tuntut Hentikan Pemborosan Anggaran

Mahasiswa Bandung Raya Demo di DPRD Jabar, Soroti Pemborosan Anggaran

Bandung – Ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Bandung Raya menggelar demonstrasi di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Senin (15/6) sore. Aksi ini merupakan bentuk penyampaian aspirasi masyarakat yang selama ini dinilai belum mendapat perhatian dari pemerintah.

Koordinator aksi, Abdurrahman Muhammad Abdul Malik Albarakati dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung, menyatakan bahwa demonstrasi ini bukan sekadar gerakan mahasiswa, melainkan representasi keresahan masyarakat terhadap ketidakadilan dan kesewenang-wenangan pemerintah.

“Aksi ini bukan semata-mata gerakan mahasiswa, melainkan bentuk keresahan masyarakat terhadap ketidakadilan dan tindakan yang kami nilai sebagai bentuk kesewenang-wenangan pemerintah saat ini,” ujarnya kepada wartawan di lokasi.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Beragam Tuntutan Disuarakan

Dalam orasinya, para mahasiswa menyoroti sejumlah isu strategis, antara lain program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Merah Putih, serta penggunaan anggaran negara. Mereka juga menyinggung belanja perjalanan dinas ke luar negeri yang dinilai perlu dievaluasi secara ketat.

“Menghentikan pemborosan anggaran untuk kunjungan luar negeri,” tegas Abdurrahman. Menurutnya, tuntutan yang dibawa massa berangkat dari keinginan mendorong perubahan mendasar dalam tata kelola pemerintahan yang lebih transparan dan akuntabel.

Aksi Akan Terus Berlanjut Jika Tidak Direspons

Abdurrahman menjelaskan bahwa aksi serupa akan terus dilakukan apabila tuntutan yang disampaikan tidak mendapatkan tanggapan dari pemerintah. Ia menegaskan bahwa mahasiswa tidak hanya menyuarakan protes, tetapi juga telah menyusun kajian dan menawarkan solusi alternatif atas berbagai persoalan yang disoroti.

“Jika tuntutan ini tidak direspons oleh pemerintah, kami tetap akan terus menyuarakan aspirasi. Kami tidak hanya menyampaikan tuntutan, tetapi juga telah menyusun kajian dan menawarkan solusi atas berbagai persoalan yang kami soroti,” tuturnya.

Evaluasi Respons Pemerintah

Ia menambahkan bahwa gelombang aksi mahasiswa sebelumnya di berbagai daerah belum menghasilkan respons yang dianggap memadai. Oleh karena itu, turun ke jalan dinilai sebagai langkah terakhir setelah berbagai upaya dialog dan audiensi tidak membuahkan hasil nyata.

“Kami melihat berbagai aksi mahasiswa yang telah dilakukan sebelumnya, baik di Jakarta maupun di Bandung, belum mendapatkan respons yang memadai dari pemerintah. Karena itu, kami menilai aksi turun ke jalan menjadi salah satu langkah terakhir yang dapat dilakukan mahasiswa setelah berbagai upaya dialog dan audiensi tidak menghasilkan tindakan nyata,” pungkas Abdurrahman.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga