Prabowo Cerita Tolak Impor Beras Saat Hadap Aburizal Bakrie
Prabowo Cerita Tolak Impor Beras Hadap Aburizal Bakrie

Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan pengalamannya saat menghadap Aburizal Bakrie yang kala itu menjabat Menteri Koordinator Perekonomian pada periode 2004-2005. Dalam pertemuan tersebut, Prabowo yang saat itu menjabat Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) menyampaikan penolakannya terhadap rencana impor beras yang akan dilakukan pemerintah.

Latar Belakang Penolakan Impor Beras

Prabowo menjelaskan bahwa dirinya terus mengikuti kontestasi pemilihan presiden meskipun beberapa kali mengalami kekalahan karena ia melihat arah pembangunan ekonomi Indonesia dinilai tidak berpihak kepada rakyat kecil. Menurutnya, saat itu kebijakan ekonomi dipengaruhi oleh paham neoliberal.

"Empat kali kalah yang terakhir menang. Kenapa saya masih terus karena saya melihat arah pembangunan arah ekonomi kita waktu itu di arah yang keliru, waktu itu yang dianut adalah paham neoliberal," ujar Prabowo dalam pidatonya pada acara Puncak Pekan Nasional (Penas) Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo, Rabu (24/6/2026).

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Kritik terhadap Paham Neoliberal

Menurut Prabowo, paham neoliberal mengedepankan persaingan bebas dan tidak mendorong negara untuk membantu kelompok masyarakat yang lemah secara ekonomi. "Neoliberal mengatakan bahwa pemerintah tidak boleh membantu orang-orang miskin. Orang lemah dikatakan memang lemah karena tidak bisa bersaing, yang diutamakan adalah orang kuat yang katanya mampu bersaing," kata Prabowo.

Pertemuan dengan Aburizal Bakrie

Prabowo bercerita bahwa dirinya menghadap Aburizal Bakrie untuk menyampaikan penolakan atas kebijakan impor beras oleh pemerintah, terutama saat petani hendak panen. "Waktu itu saya ketum HKTI, saya menghadap Menko Perekonomian waktu itu namanya Aburizal Bakrie waktu itu pemerintah mau impor beras. Saya sebagai ketum HKTI dan saya mengimbau janganlah mengimpor beras apalagi mengimpor di saat petani mau panen. Hancur harga untuk petani. Petani kita tidak bisa untung, tidak kembali modal," kata Prabowo menggambarkan pertemuan silam itu.

Dalam pertemuan tersebut, Prabowo mengungkapkan bahwa ada pandangan yang mendukung impor beras dengan alasan negara lain dinilai lebih efisien dalam memproduksi beras. "Waktu itu banyak pakar-pakar yang pintar, sampai sekarang menganggap dirinya pintar, mengatakan untuk apa kita membela petani Indonesia kalau petani Indonesia, ini kata-kata beliau, bukan kata Pak Aburizal Bakrie, tapi salah satu penasihatnya, kalau petani Indonesia tidak efisien, itu kata-kata beliau. Kalau Vietnam lebih efisien," ujarnya.

Reaksi Prabowo

Pernyataan tersebut membuat Prabowo terkejut sekaligus prihatin. Ia menilai pandangan yang hanya berpatokan pada efisiensi ekonomi tanpa mempertimbangkan nasib petani merupakan cara pandang yang keliru. "Saya kaget dan saya sedih saya mengatakan dalam hati saya, ini salah besar. Ini tidak mengerti arti negara, tidak mengerti apa arti bernegara, tidak mengerti kenapa kita mau merdeka," katanya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga