Mengapa Gaya Hidup Bukan Biang Keladi Sulitnya Milenial Beli Rumah
Mengapa Gaya Hidup Bukan Biang Keladi Sulitnya Milenial Beli Rumah

KOMPAS.com - Perselisihan antar-generasi mengenai gaya hidup versus kepemilikan properti terus menjadi perdebatan hangat. Generasi tua, khususnya kelompok Boomers, kerap menuding bahwa kegagalan generasi muda seperti Milenial dan Gen Z dalam memiliki rumah disebabkan oleh pilihan gaya hidup yang boros. Tudingan itu sering dikaitkan dengan hobi membeli kopi kekinian dan roti panggang alpukat (avocado toast) yang dianggap sebagai pemborosan.

Kritik Miliarder: Jangan Makan di Luar!

Narasi ini semakin diperkuat oleh pernyataan kontroversial miliarder properti asal Australia, Tim Gurner. Ia dengan lantang menyebutkan bahwa generasi muda harus berhemat, termasuk tidak makan di luar, jika ingin memiliki rumah. Namun, benarkah penghematan pada hal-hal kecil tersebut menjadi kunci untuk memiliki hunian di tengah melambungnya harga properti?

Fakta di Balik Harga Properti

Data menunjukkan bahwa kenaikan harga properti jauh melampaui pertumbuhan pendapatan generasi muda. Di banyak kota besar, harga rumah meningkat puluhan persen setiap tahun, sementara upah hanya naik sedikit. Selain itu, suku bunga KPR yang tinggi dan persyaratan uang muka yang besar menjadi hambatan utama. Penghematan dari kopi atau roti panggang tidak akan cukup untuk menutup selisih harga yang sangat besar.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Para ahli ekonomi menilai bahwa masalah ini bersifat struktural, bukan sekadar gaya hidup. Kebijakan perumahan, spekulasi properti, dan terbatasnya lahan menjadi faktor dominan. Generasi muda tidak bisa disalahkan sepenuhnya atas kondisi ini. Mereka justru menghadapi tantangan ekonomi yang lebih berat dibandingkan generasi sebelumnya.

Dengan demikian, anggapan bahwa gaya hidup boros adalah biang keladi sulitnya memiliki rumah perlu dipertanyakan kembali. Solusi yang lebih realistis adalah melalui kebijakan pemerintah yang mendukung akses perumahan terjangkau, bukan sekadar menekan konsumsi harian generasi muda.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga