Hampir setahun sejak diresmikan, Koperasi Kelurahan Merah Putih mulai menjalankan aktivitasnya di berbagai wilayah Jakarta. Namun, wajah koperasi di ibu kota ternyata tidak sama. Ada yang sudah memiliki ratusan anggota dan mampu menyediakan berbagai kebutuhan pokok, ada pula yang masih mengandalkan iuran anggota sebagai modal usaha. Tim Liputan6.com mendatangi tiga Koperasi Kelurahan Merah Putih di Jakarta, yakni Pondok Kelapa di Jakarta Timur, Bangka di Jakarta Selatan, dan Melawai di Kebayoran Baru. Masing-masing memiliki cerita dan tantangan yang berbeda.
Koperasi Pondok Kelapa: Lebih dari 500 Anggota, Modal dari Iuran
Pagi itu, aktivitas di Koperasi Kelurahan Merah Putih Pondok Kelapa, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, baru saja dimulai. Seorang karyawan terlihat merapikan meja dan menyusun barang dagangan di etalase. Ketua koperasi sedang berada di Surabaya untuk mengikuti rapat kerja. Sementara yang menyambut kedatangan Liputan6.com adalah Tata, salah satu pengawas koperasi.
Lokasi koperasi berada tepat di samping Kantor Kelurahan Pondok Kelapa. Bangunan itu dulunya merupakan rumah dinas lurah yang kini difungsikan sebagai gerai Koperasi Kelurahan Merah Putih. Menurut Tata, pembentukan koperasi diawali dengan sosialisasi yang melibatkan pemerintah kelurahan, Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM), Lembaga Musyawarah Kelurahan (LMK), tokoh masyarakat, hingga berbagai unsur warga lainnya. "Jadi kami begitu ada wacana koperasi itu, kerja sama antara pemerintahan kelurahan, lalu ada FKDM, LMK, semuanya diundang. Lalu ada perwakilan-perwakilan kemasyarakatan, tokoh-tokoh masyarakat, dan kami mensosialisasikan apa yang dimaksud dengan pendirian koperasi Merah Putih itu berdasar undang-undang yang ada," kata Tata kepada Liputan6.com, Rabu (15/7/2026).
Setelah proses sosialisasi, pengurus koperasi dipilih melalui musyawarah bersama warga. "Jadi pengurusnya juga enggak main tunjuk aja, tapi melalui rapat secara keseluruhan yang tadi itu, lalu menunjuk siapa nih pengurusnya. Nah, disepakatilah waktu itu Pak Nur Effendi yang sampai sekarang." Saat ini koperasi tersebut telah memiliki lebih dari 500 anggota. Setiap anggota menyetor simpanan pokok Rp100.000 dan simpanan wajib Rp25.000. Dana itulah yang hingga kini menjadi modal utama koperasi menjalankan operasional.
Rak-rak di dalam gerai terlihat cukup lengkap. Beras, gula, minyak goreng, makanan ringan hingga makanan beku sudah tersedia. Meski begitu, Tata mengakui tantangan koperasi bukan lagi soal ketersediaan barang, melainkan bersaing dengan minimarket yang sudah lebih dulu menjamur di Jakarta. "Cuma tantangannya lebih kepada konsep kita itu diminta untuk menyediakan barang itu lebih murah. Jakarta itu kan sebenarnya sudah penuh dengan pedagang seperti Alfamart segala macam. Tapi kami diminta paling tidak bisa setara harganya." Menurut dia, hingga kini koperasi juga masih mengandalkan modal dari anggota karena belum memperoleh dukungan pembiayaan dari pemerintah.
Koperasi Bangka: 225 Anggota, Belum Buka Pinjaman
Perjalanan kemudian berlanjut ke Koperasi Kelurahan Merah Putih Bangka, Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Lokasinya juga memanfaatkan bekas rumah dinas lurah. Suasananya lebih sederhana dibanding Pondok Kelapa. Barang dagangan yang dipajang pun belum sebanyak koperasi sebelumnya.
Hafiz, salah satu pengurus koperasi, mengatakan koperasi tersebut kini memiliki sekitar 225 anggota. Sebagian besar berasal dari unsur RT, RW, PPSU, PKK, Jumantik, hingga Dasawisma. Menurut Hafiz, pertanyaan yang paling sering dia terima dari warga justru bukan soal sembako, melainkan pinjaman. "Kebanyakan memang ketika kita masuk ke arisan RT, warga nanyanya 'ada pinjaman enggak sih?'." Namun hingga kini koperasi belum membuka layanan pinjaman. "Kalau di kita sendiri emang enggak ada pinjaman, kita cuma muter dana anggota buat dagang sembako aja." Modal usaha berasal dari simpanan pokok Rp150.000 dan simpanan wajib Rp20.000 setiap bulan. "Kalau enggak dari dana anggota kita enggak bisa bergerak," ujar Hafiz.
Produk yang paling banyak dicari warga adalah Minyakita. Sesekali koperasi juga menggelar bazar dengan menjual paket sembako berisi beras, gula, kopi, teh, dan mi instan. Menurut Hafiz, koperasi sebenarnya ingin berkembang lebih cepat. Namun syarat untuk memperoleh bantuan pemerintah belum bisa dipenuhi. "Karena kalau nungguin pemerintah itu syaratnya berat. Waktu itu di bulan November diminta cari lahan 1.000 meter. Nah itu kita enggak punya. Makanya kita enggak dapet yang dibangunin gerai."
Koperasi Melawai: Laba Rp78 Ribu, Ramai karena Tenant
Dari Bangka, perjalanan Liputan6.com berlanjut ke Koperasi Kelurahan Merah Putih Melawai di kawasan Blok M Hub, Kebayoran Baru. Koperasi inilah yang belakangan menjadi sorotan setelah disebut hanya membukukan laba sekitar Rp78.000. Saat Liputan6.com tiba, hanya ada Nana, karyawan yang menjaga gerai. Para pengurus biasanya datang sekitar satu kali dalam seminggu karena masih memiliki pekerjaan lain.
Meski demikian, aktivitas jual beli tetap berjalan. "Alhamdulillah rame, apalagi kalau pas libur Sabtu Minggu, sampe penuh ini," kata Nana. Berbeda dengan dua koperasi sebelumnya, barang dagangan di Melawai terlihat lebih beragam. Selain sembako, tersedia air galon, gas elpiji, popok bayi, popok dewasa, pembalut, minuman dingin, hingga makanan beku. Menurut Nana, pembeli koperasi tidak hanya berasal dari warga sekitar. Banyak tenant yang berjualan di kawasan Blok M Hub juga berbelanja kebutuhan usahanya di koperasi tersebut. "Lumayan banyak sih yang dari tenant-tenant di sini, beli gas, paling itu sih yang seringnya."
Pemerintah Siapkan Model Bisnis Khusus Perkotaan
Tantangan yang dihadapi koperasi-koperasi di Jakarta ternyata juga menjadi perhatian pemerintah. Menteri Koperasi Ferry Juliantono mengatakan Kementerian Koperasi tengah menyiapkan model bisnis dan studi kelayakan (feasibility study) khusus bagi Koperasi Kelurahan Merah Putih di kawasan perkotaan. Menurut dia, karakter koperasi di kota besar berbeda dengan koperasi yang berada di pedesaan sehingga membutuhkan pendekatan yang berbeda.
"Dalam waktu dekat kami membangun prototipe yang khusus untuk di kelurahan di kota-kota besar dengan model bisnis dan feasibility study yang berbeda," kata Ferry dalam Rapat Kerja Komisi VI DPR RI di Jakarta, dikutip dari Antara. Menurut Ferry, selama ini pemerintah masih memprioritaskan pembangunan gerai, gudang, dan sarana pendukung koperasi di wilayah pedesaan. Karena itu, model bisnis khusus untuk kawasan perkotaan belum diterapkan.
Pernyataan Ferry itu disampaikan setelah muncul sorotan terhadap Koperasi Kelurahan Merah Putih Melawai, Jakarta Selatan, yang dilaporkan hanya membukukan laba sekitar Rp78.000. "Itu memang Koperasi Kelurahan Merah Putih di Melawai yang didirikan secara mandiri oleh pengurus. Dan memang kami belum masuk ke kelurahan, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta," ujarnya. Ia menilai koperasi di kota menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan koperasi di desa. "Karena itu tentu berkaitan dengan model bisnis dan feasibility study yang sangat bisa jadi berbeda sama sekali dengan model bisnis dan feasibility study yang ada di koperasi-koperasi yang berkarakter desa."
Kesimpulan: Fase Berkembang dengan Tantangan Serupa
Kunjungan ke tiga koperasi tersebut memperlihatkan bahwa Koperasi Kelurahan Merah Putih di Jakarta masih berada dalam fase berkembang. Ada yang sudah memiliki basis anggota cukup besar, ada yang masih bertumpu pada iuran anggota sebagai modal usaha, dan ada pula yang mulai menemukan pasar karena lokasinya berada di pusat aktivitas ekonomi. Di tengah kondisi itu, tantangan yang dihadapi relatif sama, yakni memperkuat modal, memperluas keanggotaan, dan mencari model usaha yang mampu bersaing dengan ritel modern di kawasan perkotaan. Model bisnis yang tengah disiapkan pemerintah diharapkan dapat menjadi pijakan bagi koperasi-koperasi tersebut untuk berkembang lebih jauh.



