Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax (RON 92) memaksa para pengemudi ojek online (ojol) untuk berpikir keras. Mereka mulai mencari cara untuk menyiasati kenaikan ini, karena sebagian dari mereka menggunakan Pertamax untuk operasional sehari-hari. Selain itu, ada kekhawatiran bahwa antrean di jalur Pertalite akan semakin panjang.
Dampak Kenaikan BBM bagi Ojol
Pengemudi ojol di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Malang menilai kebijakan ini berpotensi menambah beban operasional dan mengganggu produktivitas kerja mereka. Ketua Wadah Komunikasi Antar Driver Aktif (Wakanda) Yogyakarta, Rie Rahmawati, menyatakan bahwa sebagian besar pengemudi ojol di Yogya sebenarnya menggunakan Pertalite. Namun, kenaikan harga Pertamax tetap memicu kekhawatiran akan lonjakan antrean di pompa Pertalite.
Upaya Ojol Mengatasi Kenaikan
Beberapa pengemudi ojol mulai beralih ke bahan bakar alternatif atau mengurangi jarak tempuh harian. Ada juga yang mempertimbangkan untuk menggunakan kendaraan listrik meskipun biaya awalnya tinggi. Mereka berharap pemerintah dapat memberikan solusi yang tidak memberatkan masyarakat kecil, terutama para pekerja sektor transportasi.



