Kementerian Pertahanan (Kemhan) melakukan tracing dan isolasi massal terhadap sejumlah peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih, setelah salah satu peserta terdiagnosis pneumonia dan meninggal dunia. Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemhan, Mayjen TNI Ketut Gede Waten Pasti, menyatakan bahwa pihaknya juga melakukan klasterisasi dan tindakan medis bagi peserta.
Lima Peserta Meninggal Akibat Berbagai Penyakit
Hingga saat ini, sudah ada lima peserta latsarmil program SPPI calon manajer Kopdes yang meninggal dunia akibat berbagai penyakit yang diderita. Penyakit tersebut meliputi hipertensi, obesitas, pneumonia, infeksi paru-paru akibat virus, hingga tuberkulosis (TBC). Berdasarkan pemeriksaan awal, peserta atas nama Novia Ramadhani Sihotang didiagnosis meninggal akibat TBC. Namun, hasil tersebut dibantah oleh Tim Kesehatan Kemhan.
Tim Kesehatan Kemhan, Letkol Ckm dr. Ikhsan, menegaskan bahwa pelaksanaan rekrutmen dilakukan sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP). Pemeriksaan dilakukan melalui laboratorium, fisik, rontgen, hingga USG. "Tetapi kalau TBC yang kami sempat diskusi dengan ini, itu bukan TBC tapi adalah pneumonia atau infeksi paru-paru yang disebabkan oleh virus," kata dia.
Bantahan Kemhan Terkait TBC
Ikhsan juga menegaskan bahwa peserta yang memiliki riwayat penyakit tuberkulosis atau TBC tidak akan diloloskan. Ia menyebut TBC adalah penyakit yang tidak lulus atau tidak memenuhi syarat. "Kenapa ada pertanyaan tadi agak ini? Itu dari hasil pemeriksaan itu bukan TBC, tetapi adalah infeksi paru-paru yang disebabkan oleh virus," kata dia.
Sebelumnya, Kemhan juga mengumumkan bahwa 32 peserta SPPI yang sedang hamil dipulangkan dari pelatihan karena alasan kesehatan dan kemanusiaan, namun mereka tetap dapat mengikuti pelatihan berikutnya. Langkah ini diambil sebagai bentuk perhatian terhadap kondisi peserta.
Proses Tracing dan Isolasi Massal
Ketut Gede Waten Pasti menjelaskan bahwa pasca kejadian meninggalnya Novia Sihotang, satuan latihan setempat dari Halim Perdanakusuma langsung melaksanakan tracing kepada seluruh peserta, lingkungan, dan penyelenggara. "Kemudian dilaksanakan klasterisasi dan tindakan kedokteran lebih lanjut," ujarnya di Kementerian Pertahanan, Sabtu (27/6/2026).
Kemhan memastikan bahwa semua prosedur medis dan kesehatan telah dijalankan dengan ketat. Pemeriksaan kesehatan awal mencakup berbagai tes untuk memastikan kondisi fisik peserta. Meskipun terdapat lima kematian, Kemhan mengklaim bahwa rekrutmen telah sesuai dengan SOP yang berlaku.



