Kementerian Pertanian Jepang tengah mendorong penggunaan tepung beras sebagai bahan baku pembuatan makanan manis. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap penurunan drastis konsumsi beras di negara tersebut. Strategi ini merupakan upaya untuk meningkatkan kembali konsumsi makanan pokok yang selama ini menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya kuliner Jepang.
Penurunan Konsumsi Beras di Jepang
Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh Organisasi Pendukung Pasokan Beras Stabil di Jepang, konsumsi beras rata-rata bulanan per kapita di Jepang mengalami penurunan sebesar 6,1 persen. Angka tersebut mencapai titik terendah dalam tujuh tahun terakhir, yakni sebesar 4.435 gram pada Maret 2026. Penurunan ini menunjukkan pergeseran pola konsumsi masyarakat Jepang yang mulai beralih ke makanan lain seperti mi dan roti.
Harga Beras yang Semakin Mahal
Salah satu faktor yang mendorong penurunan konsumsi beras adalah kenaikan harga yang signifikan. Harga beras di Jepang kini menembus angka Rp 430.000 per kilogram, membuat banyak warga beralih ke alternatif yang lebih terjangkau seperti mi dan roti. Kondisi ini memicu kekhawatiran pemerintah akan menurunnya permintaan beras dalam negeri.
Strategi Tepung Beras untuk Makanan Manis
Untuk mengatasi masalah ini, Kementerian Pertanian Jepang mendorong inovasi pemanfaatan tepung beras dalam industri makanan, khususnya untuk produk makanan manis. Tepung beras dinilai memiliki potensi besar sebagai bahan baku yang lebih sehat dan ramah bagi konsumen yang memiliki alergi gluten. Selain itu, penggunaan tepung beras juga diharapkan dapat membuka pasar baru bagi petani beras lokal.
Menurut laporan Japan Today pada Minggu (12/7/2026), strategi ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan konsumsi beras di tengah tren penurunan yang terus berlanjut. Pemerintah Jepang berharap dengan memperluas penggunaan tepung beras, masyarakat akan kembali mengapresiasi produk berbasis beras.
Dampak bagi Petani dan Industri
Langkah ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi petani beras di Jepang yang selama ini menghadapi penurunan permintaan. Dengan adanya permintaan baru dari industri makanan, petani dapat mempertahankan produksi beras mereka. Selain itu, industri makanan juga akan mendapatkan bahan baku alternatif yang berpotensi meningkatkan nilai tambah produk.
Ke depan, pemerintah Jepang akan terus memantau perkembangan konsumsi beras dan mengevaluasi efektivitas strategi ini. Jika berhasil, penggunaan tepung beras untuk makanan manis bisa menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi penurunan konsumsi beras di Jepang.



